pengendalian nyamuk dengan fogging

Posted on Juni 10, 2013

0


Mind Set mengenai Fogging sudah demikian merasuk ke masyarakat kita, bila tidak dilakukan penyemprotan sepertinya belum ada tindak lanjut dari KESEHATAN, itu adalah persepsi yg keliru, maka dengan ini kami ingin meluruskan kembali tentang FOGGING…

Dapat kami informasikan bahwa :
1. Fogging adalah upaya pemberantasan nyamuk bukan upaya pencegahan sehingga akan dilaksanakan fogging apabila terdapat kasus DBD dan memenuhi kriteria fogging.
2. Upaya pencegahan terhadap kasus DBD adalah dengan melaksanakan 3 M (Menguras, menutup,Mengubur ).
3. Prosedur Fogging adalah sebagai berkut :
a. Terdapat laporan kasus DBD dari Desa atau Rumah Sakit .
b. Ada pemberitahuan dari Desa ke Puskesmas setempat
c. Puskesmas menindak lanjuti laporan dari desa dengan melaksanakan Penyeledikan Epidemiologi yang tujuannya adalah mengetahui ada tidaknya penderita DB yang lain atau menemukan tersangka DBD dan melaksanakan pemeriksaan jentik pada radius 100 m dari penderita.
d. Apabila hasil Penyelidikan Epidemiologi menyebutkan ada penderita DB yang lain dan atau ditemukan ≥ 3 tersangka serta ditemukan ≥ 5 % rumah terdapat Jentik nyamuk, maka puskesmas akan meneruskan permohonan fogging ke Dinas Kesehatan.
e. Tetapi apabila hasil PE tidak sesuai dengan kriteria diatas, maka puskesmas akan menindak lanjuti dengan PSN, pemberian abate dan Penyuluhan tanpa dilanjutkan fogging.

Fogging sebenarnya kurang EFEKTIF apabila tidak ditindaklanjuti dengan gerakan 3 M. Mencegah lebih efektif dari pada mengobati atau memberantas…

Mari kita galakan kembali gerakan 3 M di wilayah kita… kalo ada yg gampang kenapa tidak kita lakukan…dan jangan NGGAMPANGKE…

Demikian yang dapat kami sampaikan atas perhatiannya disampaikan ucapan terima kasih.

http://pemalangsehat.wordpress.com/2010/03/10/prosedur-fogging/

 

 

EFEK “DEMAM FOGGING”

25 05 2009

Akhir-akhir ini kalau kita perhatikan masih muncul fenomena di sejumlah daerah yang orang sering menyebutnya sebagai “demam fogging”. Salah satu pemicu utamanya adalah akibat manuver gencar dari partai politik yang mencoba menarik simpati konstituennya melalui penawaran fogging secara gratis. Pada saat yang hampir bersamaan juga muncul bentuk kolaborasi sistematis yang dilakukan beberapa perusahaan swasta yang juga melibatkan media massa yang cukup gencar diberitakan tentang “keberhasilan” gerakan fogging tersebut. Hal ini terkesan menjadi “mainan baru” untuk ajang publikasi bersama yang dikemas cukup sistematis dan serius, tentu dengan beberapa “klaim” yang akhirnya kalau tidak hati-hati justeru bisa berujung pada pemberitaan yang terlalu bombastis bahkan menyesatkan.

Memang sekilas ada sisi positif dari merebaknya “demam fogging” tersebut dimana ada gerakan massal sebagai bentuk partisipasi aktif dari segenap komponen masyarakat terutama kalangan pengusaha, mass media dan tentu saja para politisi. Harapan dari semua itu nantinya bisa mendukung keberhasilan pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue maupun penyakit menular lain yang ditularkan lewat vektor nyamuk. Akan tetapi dari semua komponen yang terlibat, kira-kira berapa banyak yang juga menyadari ada sisi buruk maupun kurang efektinya kegiatan fogging dan apa saja yang harus diwaspadai terkait efek  pemberitaan“demam fogging” ini ?

Magnitude Penyakit DBD

Sebelum membahas tentang efek “demam fogging” sebaiknya kita bisa mencermati lebih dahulu tentang trend dari penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Ini penting agar semua pihak bisa melihat secara lebih proporsional ‘magnitude” problem sebenarnya yang perlu diperhitungkan oleh semua pihak yang ingin terlibat dalam upaya pemberantasan DBD termasuk melalui kegiatan fogging. Dari data WHO-SEARO tahun 2008 diperoleh gambaran trend kasus DBD dari tahun 1985-2006 yang menunjukkan pola peningkatan jumlah kasus secara cukup signifikan namun dengan case fatality rate (CFR) yang cenderung menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa strategi & upaya pemberantasan DBD yang selama ini diterapkan masih kurang efektif, disisi lain ada kemajuan dalam penanganan penderita sehingga tingkat kematian akibat DBD semakin kecil. Data lengkap seperti terlihat dalam tabel berikut ini:

 

Tren DBD dari 1985-2006 di Indonesia

(sumber : WHO-SEARO, 2008)

Data lebih baru menunjukkan pola penyebaran daerah endemis juga semakin merata di seluruh Indonesia, di tahun 2007 malah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di 11 Provinsi dan daerah kabupaten yang terjangkit mencapai 357 kota/kabupaten (81,2%) Sedangkan ditilik dari pola sessional akan mencapai puncak pada bulan Januari-Pebruari, menurun kembali di bulan Maret dan mencapai titik terendah pada bulan September-Oktober.  Pemetaan kasus DBD di Indonesia tahun 2007 dapat dilihat dalam gambar berikut ini

 

 

Pemetaan DBD Indonesia 2007

(Sumber: Dirjen PPBB, Depkes RI, 2009)

Efek X-Musquitos & Resistensi

Ibarat pepatah “patah tumbuh hilang berganti”, demikianlah kira-kira gambaran pendekatan yang mendewakan fogging dalam pemberantasan DBD. Mengapa? Karena efek fogging hanya akan membunuh nyamuk dewasa saja. Pada saat yang sama sekitar 200-400 jentik-jentik nyamuk akan siap menggantikan induknya yang terbunuh hanya dalam waktu seminggu saja. Jadi jangan sekali-kali sampai ada klaim dengan sekali fogging maka daerah itu bisa “bebas” dari nyamuk DBD!. Sekalipun fogging dilakukan tiap seminggu sekali (diseusaikan siklus nyamuk) ternyata  hasilnya kasus DBD makin merebak seperti kasus yang terjadi di Bontang, Kaltim tahun 2008. Pelajaran dari kasus ini seharusnya membuat semua pihak harus lebih bijaksana saat ingin menjadikan fogging sebagai salah satu atau malah satu-satunya upaya pemberantasan DBD.

Mengapa kasus diatas bisa terjadi? Memang belum ada penelitian yang sahih untuk menjawab itu, tetapi patut diduga karena sudah terjadi resistensi terhadap insektisida yang dipakai untuk fogging seperti Malathion 0,8% atau yang lain.  Kemungkinan besar hal ini terkait dengan ketidak patuhan petugas melaksanakan standar operating prosedur fogging atau efek migrasi nyamuk di luar daerah fogging focus (meliputi area 200-300 m2 saja) sehingga ada kemungkinan nyamuk DBD yang punya jelajah terbang sampai 100 m memang tidak terpapar dosis insektisida secara adekuat. Kalau hal ini berlangsung secara terus menerus maka akan terjadi resistensi. Akibat resistensi ini memberikan dampak lain yang lebih mengkhawatirkan yaitu munculnya varian baru yang dikenal sebagai “X-musquitoes” atau “muxxxquitoes” yang ditengarai merupakan varian terganas dari nyamuk DBD yang bertanggung jawab terhadap munculnya Dengue Shock Syndrome (DSS) dan kematian.

Upaya Lebih Cerdas

Kembali lagi, kita mesti ekstra waspada terhadap dampak dari demam fogging beserta pemberitaannya yang cukup masif namun terkesan menyesatkan tersebut. Ada baiknya kedepan semua pihak terutama dari kalangan pengusaha dan media massa yang telah peduli dan ingin berpartisipasi secara aktif dalam program pemberantasan DBD mau mengevaluasi secara lebih cermat antara risiko dan benefit dari kegiatan fogging ini. Masih banyak upaya strategis lain yang telah terbukti secara ilmiah mampu menekan perkembangan nyamuk DBD dibandingkan hanya dengan melakukan fogging. Bahkan oleh pemerintah sudah dibuat kampanye melalui gerakan “3M plus”, mengapa tidak mensinergikan atau mengkolaborasikan  dana dan  tenaga yang selama ini banyak terkuras untuk fogging ke dalam berbagai kegiatan pencegahan lain yang telah dirintis oleh pemerintah melalui gerakan “3M plus” tersebut?

Untuk bisa memberikan efek sinergis dan efektif sekaligus bisa secara cerdas mampu memelihara “branding” yang ingin dicapai sebagai bentuk nyata dari misi “corporate social & environmental responsibility” dari kalangan pengusaha dan media melalui upaya pemberantasan DBD, seharusnya mereka tidak perlu sungkan melibatkan stakeholders lain yang selama ini belum terlibat secara proporsional minimal dari kalangan akademisi serta tentu saja dari kalangan masyarakat itu sendiri. Pemberdayaan masyarakat menjadi tantangan yang menarik untuk dielaborasikan dalam kegiatan pemberantasan DBD, karena tanpa dukungan nyata dan partisipasi aktif dari masyarakat maka apapun bentuk intervensi yang ditawarkan dari pihak luar akanlah sia-sia.

http://p4kundip.wordpress.com/tag/demam-fogging/

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

FOGGING DAN MIST BLOWER

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Nyamuk dalam kehidupan sehari hari keberadaan nyamuk sangat dekat dengan manusia. Nyamuk tinggal dan berkembang biak disekitar lingkungan hidup manusia, dekat penampungan air, dibawah daun, baju yang tergantung, dalam botol bekas, pot bunga, saluran air dan lain lain. Secara umum nyamuk dikenal dalam tiga kelompok: Aedes, Culex, Anopheles. Nyamuk sebagai penyebab demam berdarah dan juga malaria, oleh karena itu harus ada upaya yang dibutuhkan untuk mencegah penyakit tersebut.

Metode yang digunakan dalam pengendalian nyamuk adalah dengan memutus sirkulasi hidup nyamuk, dengan membasmi nyamuk dewasa dan menghambat perkembangan larva menjadi nyamuk. Teknis pengendalian yang dilakukan meliputi fogging mesin (pengasapan), spraying (penyemprotan), mist blower, ultra light fogger (Pengkabutan) dan abatesasi (penaburan bubuk abate).

1. Fogging (Pengasapan)

Fogging (pengasapan) adalah salah satu teknis pengendalian nyamuk yang dilakukan diluar ruangan. Alat yang digunakan adalah mesin fogging (Termal Fogger). Target dari cara pengendalian ini adalah nyamuk dewasa yang berada diluar gedung. Area yang biasa dilakukan pengasapan antara lain Garbage Area (tempat sampah), drainage (STP), pengasapan tebal pada seluruh jalur got (drainage) yang tertutup treatment dengan insektisida khusus termal fogger.

2. Spraying (Penyemprotan).

Spraying atau penyemprotan adalah salah satu cara pengendalaian nyamuk dengan menggunakan alat semprot berupa knapsack sprayer atau hand sprayer dan mist blower dengan sasarn nyamuk dewasa, cara ini dilakukan di dalam dan di luar ruangan. Treatment dilakukan pada semua tempat yang menjadi persembunyian nyamuk dan kecoa. Bagian bawah/sela (counter, dipan, meja, lemari, rak file), ruangan yang terbuka (office, lobby, corridor), dan public area lainnya.

3. Ultra Light Fogger (Pengkabutan)

Pengkabutan dilakukan khusus dilakukan didalm ruangan dengan menggunakan peralatan yang disebut ULV. Sasaran dari penggunaan alat ini adalah untuk membasmi nyamuk dewasa yang terdapat di dalam ruangan. Dengan menggunakan alat gendong (mist blower) pengkabutan juga dapat dilakukan di area taman (pohon dan semak) sekitar gedung untuk membasmi nyamuk jantan dan hama tanaman.

4. Abateisasi (penaburan abate)

Penaburan bubuk abate biasanya dilakukan di area genangan air, seperti got, bak penampungan air, kolam ikan, dll. Sedangkan pengertian dari Mist Blower sendiri adalah alat untuk mengaplikaskan partikel larutan pestisida dengan pengkabutan untuk mengendalikan lalat, nyamuk.Lebih efektif dari pengasapan (fogging )karena memiliki efek residual. Lalu pengertian dari Fogger adalah alat untuk penyemprotan pestisida dengan campuran minyak solar dalam bentuk asap / kabut ( fogging ).

B.     Tujuan

1.   Agar mahasiswa dapat menggunakan dan mengoperasionalkan mist blower dan fogger dengan benar.

2.   Agar mahasiswa dapat mengetahui formulasi yang dipakai untuk mist blower dan fogger.

C.     Manfaat

1.   Mahasiswa mempunyai ketrampilan dalam menggunakan mist blower dan fogger.

2.    Mahasiswa mengetahui formulasi yang dipakai dalam mist blower dan fogger.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

A.    Pengertian Penyemprotan Nyamuk

Penyemprotan Nyamuk adalah salah satu pekerjaan yang dilakukan oleh operator pest control yang sistem pekrjaannya adalah dengan melakukan Fogging (pengasapan) disekitar lingkungan yang sudah ada manusia kena gigitan nyamuk demam berdarah dan mengakibatkan manusia tersebut menjadi sakit. Untuk menghindari agar nyamuk demam berdarah tidah bersarang dilingkungan anda diutamakan kebersihan daripada lingkungan dan disarankan dilakukan Fogging (pengasapan) yang dikerjakan oleh badan usaha yang profesional. prima professional siap untuk membantu anda apabila ada terindikasi menderita demam berdarah.

 

B.     Alat-alat Penyemprotan

Nyamuk memang menyebalkan. Disamping sebagai vektor penular penyakit, nyamuk juga menimbulkan suara kurang nyaman di pinggir telinga ketika tidur dan rasa gatal yang menggangu ketika digigitnya. Terkadang bingung bagaimana cara efektif dalam memberantasnya. Ada alternatif dalam memberantasnya yaitu dengan cara penyemprotan.

Sering kita menggunakan alat penyemprot nyamuk rumahan yang sangat familiar dengan kita. Alat yang sederhana berisi racun nyamuk yang langsung disemprotkan ke udara atau ke kolong tempat tidur. Tetapi tahukah anda ada beberapa macam alat dan metode dalam hal penyemprotan nyamuk. Berikut ini beberapa macam peralatan tersebut. Mungkin dapat anda jadikan referensi dalam pemberantasan nyamuk di sekitar anda.

1.   SwingFog.

Swingfog adalah pengasapan insektisida dengan mesin swingfog dilaksanakan dengan cara menyemprotkan insektisida ke dalam bangunan rumah atau lingkungan sekitar rumah diharapkan nyamuk yang berada dihalaman maupun didalam rumah terpapar dengan isektisida dan dapat dibasmi. Upaya untuk menekan laju penularan penyakit DBD salah satunya ditunjukkan untuk mengurangi kepadatan vektor DBD secara kimiawi yang dikenal dengan istilah pengasapan (fogging) yaitu menggunakan alat yang diberi nama swingfog. Fogging adalah untuk membunuh sebagian besar vektor infektife dengan cepat, sehingga rantai penularan segera dapat diputuskan. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk menekan kepadatan vektor selama waktu yang cukup  sampai dimana pembawa virus tumbuh sendiri. Alat yang digunakan untuk fogging terdiri dari portable thermal fog machine  dan ultra low volume ground sprayer mounted.

Fogging yang efektif dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 sampai dengan 10.00 dan sore hari pukul 15.00 sampai 17.00, bila dilakukan pada siang hari nyamuk sudah tidak beraktiftas dan asap fogging mudah menguap karena udara terlalu panas. Fogging sebaiknya jangan dilakukan pada keadaan hujan karena sia-sia saja melakukan pengasapan.

Fogging dapat memutuskan rantai penularan DBD dengan membunuh nyamuk dewasa yang mengandung virus . namun, fogging hanya efektif selama dua hari. Selain itu, jenis insektisida yang digunakan untuk fogging ini juga harus ganti-ganti untuk menghindari resistensi dari nyamuk.

Selama 40 tahun terakhir, bahan kimia telah digunakan untuk membasmi nyamuk bagi kesehatan masyarakat saat ini banyak bermunculan fenomena resistensi terhadap bahan insektisida yang umum digunakan, antara lain: malathion, temephos, tenthion, permethrin, profoxur, dan fenithrothion. Cara itu sangat lazim digunakan pada saat outbreak terutama pada bulam-bulan kritis seranga DBD. Walaupun bahan aktif yang digunakan itu tidak selalu efektif mengendalikan vektor karena dibeberapa tempat, Aedes sudah menunjukkan resistensi terhadap beberapa insektisida yang digunakan. Hampir semua populasi aedes aegypti menunjukkan ketahanan terhadap insektisida pyrethroid, permethrin, dan deltamethrin. Kalaupun pengasapan masih digunakan hasilnya hanya dapat menghalau atau membunuh naymuk dewasa tetapi tidak termasuk larvanya. Pengasapan dengan malathion 4 persen dengan pearut solar, yang dinilai masih efektif hanya mampu membunuh nyamuk dewasa pada radius 100-200 meter dari jarak terbang nyamuk yang hanya efektifitas satu sampai dua. Dalam kondisi seperti itu, penggunaan insektisida selain kurang efektif dan mahal juga berbahaya mterhadap kesehatan dan lingkungan.

Bahaya Fogging:

a.    Dapat mengganggu saluran pernapasan

b.   Bila dilakukan fogging terus menurun nyamuk dapat kebal terhadap bahan kimia.

c.    Dapat mengakibatkan keracunan terhadap makanan yang  terkena asap fogging.

Cara-cara Pelaksanaan Fogging:

Selama ini masyarakat begitu mengandalkan fogging untuk menekan laju penularan penyakit DBD. Karena itu ada beberapa hal penting yang perlu kita ketahui mengenai fogging  antara ain sebagai berikut:

a.    Bahwa fogging efektif untuk membasmi vektor  atau nyamuk Aedes agyepti  dewasa saja karena itu upaya fogging saja tidaklah terlal efekif untuk menekan laju penularan DBD  dimasyarakat meski tidak berarti upaya melakuka fogging sia-sia.

b.   Efek fogging hanya efektif bertahan selama dua hari.

c.    Selain itu, jenis insektisida yang dipergunnakan mesti diganti secara periodik untuk menghindari kekebalan (resistensi nyamuk Aedes)

 

Hal-hal yang diperhatikan dalam pelaksanaan fogging dengan swingfog untuk mendapatkan hasil yang optimal adalah sebagai berikut:

a.    Konsentrasi larutan dan cara pembuatannya. Untuk malathion, konsentrasi larutan adalah 4-5%.

b.   Nozzle yang dipakai harus sesuai dengan bahan pelarut yang digunakan dan debit keluaraan yang diinginkan.

c.    Jarak moncong mesin dengan target maksimal 100 meter.

d.   Kecepatan berjalan ketika memfogging, untuk swingfog kurang lebih 500 m2 atau 2/3 menit untuk satu rumah dan halamnnya.

e.    Waktu fogging disesuaikan dengan kepadatan/aktifitas puncak dari nyamuk, yaitu 06.00 sampai 10.00.

 

Dalam pelaksanaan foging ini pun telah diperhatikan hal-hal diatas shingga diharapkan hasilnya juga optimimum.

        Mesin pengabut Swing Fog dengan bahan bakar bensin yang dikembangkan oleh Motan, bekerja berdasarkan prinsip semburan berpulsa. Campuran bahan bakar bensin dan udara secara berseri dibakar dalam ruang pembakaran yang berbentuk khusus pada getaran sekitar 90 pulsa per detik. Gas hasil pembakaran keluar melalui pipa yang lebih kecil dari ruang pembakaran. Larutan bahan kimia diujung resonator, lewat arus pulsa gas, kemudian pecah menjadi jutaan partikel kecil, dihembuskan ke udara dalam bentuk kabut tebal. Temperatur diujung resonator, tempat cairan bahan kimia mengalir berkisar antara 40 sampai 60 derajat Celcius tanpa mengurai komposisi bahan aktif, larutan bahan kimia yang terkena panas disini, tidak lebih dari 4 sampai 5 mili detik. Oleh sebab itu bahan kimia yang peka terhadap panas dapat dipakai.

        Pada sistem kerja mesin pengabut ini, tidak ada bagian bagian suku cadang yang bergerak. Tenaga listrik yang berasal dari 4 buah batu batere biasa, hanya digunakan untuk menghidupkan mesin.

2.   Spraycan

Alat yang satu ini hanya digunakan untuk penyemprotan nyamuk malaria. Berbentuk seperti alat penyemprot hama. Tidak membutuhkan bahan bakar untuk menghidupkannya. Tetapi dengan menggunakan udara. Cara kerjanya yaitu, dengan menyemprotkan bahan aktifnya ( ICON ) yang dicampur dengan air ke dinding rumah. Output yang dikeluarkannya adalah berbentuk cairan.

Kelebihannya : efektif dalam waktu yang lama. Kurang lebih 2-3 bulan. Fungsinya menahan nyamuk masuk kedalam rumah dan menghindari nyamuk menempel pada dinding dalam dan luar rumah.

Kekurangan : membutuhkan waktu yang lama dalam pengerjaanya. Sangat beracun bagi manusia terutama anak-anak.

3.   Penyemprot Biasa dan Hand Auto Maizer

Ini sering kita gunakan dirumah tangga. Dan banyak dijual di pasaran. Cara kerjanya hanya menyemprotkan bahan aktif racun nya ke udara. Output yang dikeluarkannya adalah berbentuk cairan.

Kelebihannya : dapat dikerjakan oleh siapa saja. Murah dan mudah.

Kekurangannya : hanya untuk skala kecil dan rumah tangga.

 

4.   Max Blower

Adalah alat yang digunakan untuk merekatkan residu pada tempat sampah atau danau-danau, rawa-rawa dan lain-lain yang sasarannya yaitu pada larva lalat untuk menghambat pertumbuhan dari larva lalat serta yang utamanya yaitu larva dari nyamuk Anopheles.

Penggunaan dari Max Blower ini yaitu disemprotkan pada tempat sampah dan untuk di danau yaitu max blower dibawa mengelilinggi danau dengan menggunakan perahu.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

Praktikum yang kami lakukan pada tanggal 5 Desember 2012, bertempat di depan Laboratorium Rekayasa adalah

1.   Mist blower

Mist blower adalah salah satu tipe sprayer yang menggunakan tenaga motor berukuran kecil, yang dikonstruksi untuk dapat memecah suatu cairan atau larutan suspensi menjadi partikel-partikel yang halus (atomized) dari suatu cairan pengendali hama dan penyakit tanaman yang berkonsentrasi tinggi ke dalam suatu arus udara berkecepatan tinggi.

Mist blower ini di samping dapat menghembuskan bahan dalam bentuk cairan, dapat pula digunakan untuk menghembuskan bahan kimia dalam bentuk bubuk atau dalam bentuk butiran, itulah sebabnya mist blower dapat pula disebut duster.

Mist blower adalah instument yang digunakan untuk membasmi hama dengan cara mengisinya dengan pestisida yang sesuai. Mist blower berbeda dengan foging karena foging menghasilkan asap sedangkan mist blower menghasilkan cold fog atau asap dingin yang lebih berat sehingga partikel akan jatuh ke bawah. Mist blower  bertujuan bukan untuk langsung membunuh tetapi lebih kepada melekatkan residu yang menyebabkan kecacatan pada pertumbuhan insekta/serangga.

Cara penyemprotan yang dilakukan adalah dengan menyemprotkan secara rata pada tempat-tempat yang berpotensi adanya nyamuk dan berjalan mundur menjauhi tempat yang sudah disemprot. Ketika melakukan penyemprotan wajib untuk menggunakan APD  (alat pelindung diri) seperti masker dan sarung tangan. Selain itu menggunakan formulasi/ takaran yang sesuai dan efektif untuk nyamuk.

 

2.   Foging

            Foging merupakan alat yang digunakan untuk pengendalian persebaran nyamuk. Foging memiliki bagian-bagian seperti tempat untuk larutan insektisida, mesin atau diesel, tempat untuk bahan bakar, bagian untuk menyemprot.

Dalam melakukan foging, hal-hal yang harus diperhatikan adalah waktu ketika melakukan foging, dosis/takaran insektisida yang digunakan, dan tempat/ lokasi foging. Waktu yang tepat ketika melakukan foging adalah pada pagi hari ketika angin belum terlalu kencang berhembus, matahari belum terlalu tinggi karena dapat mempercepat penguapan insektisida ke awan dan tidak dapat tepat sasaran.

Foging dilakukan ketika adanya kasus wabah yang terjadi di suatu wilayah akibat nyamuk Aedes atau Anopheles seperti DBD dan Malaria dan atau wilayah yang dekat dengan wilayah endemis Malaria/DBD dan berpotensi terjadinya wabah. Pad umumnya, foging dilakukan oleh petugas dari Dinas Kesehatan atau petugas puskesmas daerah setempat.

Teknik atau cara ketika melakukan foging adalah dengan meletakkan foging di bahu dan berjalan mundur menjauhi arah asap/ fog yang keluar dari foging.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari praktikum penggunaan alat mist blower dan fogging dapat disimpulkan bahwa :

1.   Cara penyemprotan yang dilakukan menggunakan mist blower adalah dengan menyemprotkan secara rata pada tempat-tempat yang berpotensi adanya nyamuk dan berjalan mundur menjauhi tempat yang sudah disemprot. Ketika melakukan penyemprotan wajib untuk menggunakan APD  (alat pelindung diri) seperti masker dan sarung tangan. Selain itu menggunakan formulasi/ takaran yang sesuai dan efektif untuk nyamuk.

2.   Teknik atau cara ketika melakukan foging adalah dengan meletakkan foging di bahu dan berjalan mundur menjauhi arah asap/ fog yang keluar dari foging.

B. Saran

1.   Sebaiknya pelaksanaan foging dilakukan pada pagi hari.

2.   Bagi Mahasiswa Kesehatan Lingkungan

Sebaiknya Mahasiswa Kesehatan Lingkungan mampu dan terampil mengoperasikan fogger untuk menekan penyebaran nyamuk penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

3.   Bagi masyarakat

Sebaiknya menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan 3M+ untuk mencegah terjadinya penyebaran nyamuk penyebab DBD.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Muhammad Gusti. 9 Mei 2012. “Swing Fog”.

http://gusti-muhammadh.blogspot.com/2012/05/swingfog.html. diakses pada tanggal 17 Desember 2012.

http://www.pelapak.com/fogger-ulv.html. diakses pada tanggal 17 Desember 2012.

http://www.pelapak.com/fogger-ulv.html. diakses pada tanggal 17 Desember 2012.

 

 

 

 

 

 Gambar : Swingfog ( SN-50)

 

About these ads
Posted in: Uncategorized