pengambilan sampah, uji fisik, kimia, bio

Posted on September 15, 2013

0


BAB 2. PEMBAHASAN

A.   PENGERTIAN SAMPAH

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung. Sampah adalah bahan baik padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan dibuang. Menurut bentuknya sampah dapat dibagi sebagai:

  1. a.    Sampah padat

Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.

Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:

    Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.

    Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:

    Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.

    Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper, thermo coal dan lain-lain.

 

  1. b.    Sampah cair

Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.

    Limbah hitam: sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung patogen yang berbahaya.

    Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.

Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.

Berdasarkan sifatnya sampah dibagi menjadi dua yakni;

  1. Sampah organik – dapat diurai (degradable), yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.

 

  1. Sampah anorganik – tidak terurai (undegradable), Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton.

 

B.   PENGAMBILAN SAMPEL

Pengambilan sampel adalah suatu prosedur tertentu yang diikuti apabila suatu substansi, bahan atau produk diambil untuk keperluan pengujian sampel yang representatif dari keseluruhannya. Karena itu, pengambilan sampel harus mewakili kumpulannya dan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: perencanaan pengambilan sampel, petugas pengambil sampel, prosedur pengambilan sampel, peralatan pengambil sampel yang digunakan, frekuensi pengambilan sampel, keselamatan kerja dan dokumentasi terkait pengambilan sampel. Proses pengambilan sampel jika tidak dilakukan secara benar, maka secanggih apapun peralatan yang dipergunakan tidak akan menghasilkan data yang dapat menggambarkan kondisi sesungguhnya.

Pengambilan sampel harus memenuhi kesesuaian terhadap standar baku yang telah diakui baik secara internasional maupun nasional, seperti standar EPA, WHO, maupun SNI, jika tidak akan mengakibatkan langkah-langkah selanjutnya seperti pengawetan, transportasi , penyimpanan, preparasi, maupun pengujian di laboratorium, akan sia-sia serta membuang waktu dan biaya.

1.      Perencanaan Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel yang telah direncanakan dengan baik akan mendukung pelaksanaan yang optimal. Dengan demikian pengambilan sampel merupakan tahap awal yang dilakukan dalam penentuan kualitas air, yang akan menentukan hasil pekerjaan pada berikutnya. Secara garis besar prosedur pengambilan sampel terdiri dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan pengambilan sampel serta Quality Asurance (QA) dan Quality Control (QC) pengambilan sampel. Hal penting bagi pengambil sampel sebelum ke lapangan adalah menyusun perencanaan dalam suatu dokumen yang membantu dalam setiap tahapan pengambilan sampel secara jelas dan sistematik. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam perencanaan pengambilan sampel adalah :

a)      Menentukan tujuan pengambilan sampel;

b)     Menentukan alat pengambil sampel yang sesuai;

c)      Menentukan apakah pengambilan sampel harus sesuai dengan standar atau peraturan tertentu;

d)     Menentukan metode analisis;

e)      Pemilihan teknik sampling dan menetukan apakah sampling dilakukan secara random atau acak;

f)       Menentukan jumlah, volume dan jenis wadah sampel;

g)      Menentukan waktu, lokasi sampling dan jenis sampel;

h)     Menentukan frekuensi sampling;

i)       Menyiapkan pengendalian mutu;

j)       Menyiapkan dokumentasi (daftar periksa persiapan pengambilan sampel, formulir rekaman dat pengambilan sampel, laporan pengambilan sampel).

Pengamanan sampel terdiri dari :

a)      Identifikasi/pengkodean sampel

b)     Pengemasan sampel

c)      Penyegelan wadah sampel, bila diperlukan

d)     Tindakan pencegahan selama transportasi ke laboratorium, jika ada ketidak sesuaian

e)      Penyimpanan sampel di laboratorium

2.      Persiapan Pengambilan Sampel

Persiapan yang harus dilakukan sebelum pengambilan sampel di lapangan adalah:

      Personel pengambil sampel

      Persiapan peralatan pengambil sampel

      Persiapan peralatan pengukuran di lapangan

      Persiapan peralatan pendukung

      Persiapan prosedur pengambilan sampel

      Persiapan wadah sampel

      Persiapan bahan pengawet, bila diperlukan

      Mengkalibrasi alat pengukur parameter lapangan

      Persiapan dokumentasi

      Persiapan pengendalian mutu lapangan

      Persiapan rekaman lapangan.

3.      Alat penelitian

      Seperangkat peralatan untuk pengambilan sampel sampah antara lain : pakaian lapangan (wear pack, masker, sepatu booth, sarung tangan), keranjang sampah, kantong-kantong plastik dan lembaran plastik.

      Timbangan, Timbangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk menimbang sampel sampah.

      Seperangkat alat dan kemikalia untuk analisis proksimat sampel sampah (organik), dan analisis kandungan logam berat (Pb dan Hg) pada sampah organik.

 

ü  Personil

Sampel harus diambil oleh personil yang memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, mendapatkan pelatihan pengambilan sampel, cukup pengalaman, dan mampu mendemonstrasikan keahlian serta ketrampilannya. Apabila pengambilan sampel dilakukan oleh personel pihak lain, misalnya pelanggan, pengawas atau penyidik dari instansi yang berwenang, pihak laboratorium harus menyediakan prosedur atau instruksi yang terdokumentasi, dan hal-hal lain yang diperlukan, seperti peralatan, wadah sampel dll.

 

 

ü Peralatan

Peralatan yang harus disiapkan sebelum melakukan pengambilan sampel terdiri dari : alat pengambil sampel, alat ukur parameter lapangan dan wadah sampel.

a. Alat Pengambil Sampel

Alat pengambil sampel harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

    terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat sampel sehingga bahan tersebut tidak menyerap zat-zat kimia dari sampel, tidak melarutkan zat-zat kimia ke dalam sampel, dan tidak bereaksi dengan sampel, (misal : alat pengambil sampel pengujian parameter minyak dan lemak menggunakan wadah/gelas kaca);

    mudah dicuci dari bekas sampel sebelumnya;

    sampel mudah dipindahkan ke dalam botol penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di dalamnya;

    mudah dan aman dibawa;

    kapasitas alat tergantung dari tujuan pengujian.

Alat pengambil sampel untuk parameter uji BOD menggunakan botol BOD, parameter uji DO menggunakan botol DO sampler, parameter uji mikrobiologi menggunakan botol coklat yang tidak tembus cahaya matahari dan disterilisasi terlebih dahulu, untuk mencegah kontaminasi dari luar.

b. Alat Ukur Parameter Lapangan

Peralatan pengukuran lapangan yang perlu dibawa pada saat sampling antara lain DO meter, pH meter, turbidimeter, konduktimeter, termometer dan current meter.

 

ü Wadah Sampel

Persyaratan wadah penyimpan sampel, sebagai berikut :

    terbuat dari bahan gelas atau plastik polyethylene (PE) atau polypropylene (PP) atau teflon (Poli Tetra Fluoro Etilen, PTFE);

    dapat ditutup dengan kuat dan rapat;

    bersih dan bebas kontaminan;

    tidak mudah pecah atau bocor;

    tidak berinteraksi dengan sampel.

Wadah sampel sebelum digunakan terlebih dahulu harus dibersihkan/dicuci dan tergantung dari jenis sampel uji. Adapun langkah pembersihan wadah sampel, sebagai berikut :

4.      Prosedur Pencucian Wadah Sampel

NO

JENIS SAMPEL UJI

PEMBERSIHAN

1

senyawa organik, mudah menguap (Volatile Organic Compound, VOC)

  • cuci alat gelas, gelas vial dan tutupnya dengan deterjen, bilas dengan air kemudian dengan Aquabides lalu keringkan dalam oven pada suhu 105C;
  • setelah satu jam, keluarkan gelas vial dan dinginkan pada suhu kamar (bila memungkinkan dalam desikator) dalam posisi terbalik di atas lembaran aluminium foil;
  • setelah dingin, tutup gelas vial.

2

senyawa organik

  • cuci botol gelas dan tutupnya dengan deterjen, bilas dengan air;
  • masukkan 10 mL aseton ke dalam botol dan rapatkan tutupnya, kocok botol dengan baik agar aseton tersebar merata dipermukaan dalam botol serta mengenai lining teflon dalam tutup;
  • buka tutup botol dan buang aseton. Biarkan botol mengering, kemudian kencangkan tutup botol agar tidak terjadi kontaminasi baru.

3

logam total dan terlarut

cuci botol gelas, polyetyllen dan tutupnya dengan deterjen, bilas dengan air, asam nitrat (HNO3) 1:1, Aquabides sebanyak 3 kali dan keringkan pada suhu kamar, setelah kering botol ditutup dengan rapat

4

BOD, COD dan nutrien

  • cuci botol oksigen / botol Winkler dan tutupnya dengan deterjen bebas fosfat, bilas dengan air;
  • cuci botol dengan asam klorida (HCl) 1:1 dan bilas dengan Aquabides sebanyak 3 kali (pH netral) dan keringkan, setelah kering tutup botol dengan rapat

5

anorganik non-logam

cuci botol dan tutup dengan deterjen, bilas dengan air kemudian bilas dengan Aquabides sebanyak 3 kali dan keringkan, setelah kering tutup botol dengan rapat

 

Pengambilan Sampel disesuaikan dengan tujuan pengambilan sampel yaitu :

    Pengambilan Sampel Sesaat (Grab Sample) adalah sampel yang menunjukkan sifat sampel pada saat diambil.

    Pengambilan Sampel Gabungan Waktu (Composite Time Sample) adalah campuran beberapa sampel yang diambil pada titik yang sama pada waktu yang berbeda.

    Pengambilan Sampel Gabungan Tempat (Composite Place Sample) adalah campuran beberapa sampel yang diambil dari beberapa titik tertentu dengan volume dan waktu yang sama.

    Pengambilan Sampel Terpadu (Integerated Sample) adalah campuran beberapa sampel gabungan waktu dan tempat.

 

Pemeriksaan di Lapangan Pekerjaan yang dilakukan meliputi :

  1. Pemeriksaan unsur-unsur yang dapat berubah dengan cepat, dilakukan langsung setelah pengambilan contoh ; unsur-unsur tersebut antara lain : pH, suhu, daya hantar listrik, alkalinity, acidity dan oksigen terlarut.
  2. Semua hasil pemeriksaan dicatat dalam buku catatan khusus pemeriksaan di lapangan, yang meliputi : nama sumber air, tanggal pengambilan contoh, jam, keadaan cuaca, bahan pengawet yang ditambahkan dan nama petugas

 

5.      Pengawetan Sampel

Pengawetan sampel meliputi perlakuan pendinginan, pengaturan pH, penambahan bahan kimia untuk mengikat polutan yang akan dianalisis.

a)     Perlakuan pendinginan

Perlakuan pendinginan sampel dengan menggunakan dry ice dalam ice box pada suhu 4 °C ± 2 °C, kemudian wadah sampel ditutup rapat sehingga tidak ada pengaruh udara dari luar.

b)    Perlakuan pengaturan pH

Perlakuan pengaturan pH bertujuan untuk cross check penambahan bahan kimia sebagai bahan pengawet pada sampel yang ditentukan berdasarkan parameter uji (sesuai persyaratan).

c)     Perlakuan penambahan bahan kimia

Perlakuan penambahan bahan kimia dilakukan setelah sampel diambil, untuk tetap memelihara keutuhan dan memastikan tidak terkontaminasi, atau mencegah terjadinya perubahan. Bahan kimia yang digunakan untuk pengawetan harus memenuhi persyaratan parameter uji untuk analisis dan tidak mengganggu atau mengubah kadar zat yang akan di uji, dengan tujuan menghambat aktivitas mikroorganisme dan mengurangi penguapan gas serta bahan-bahan organik, yang dilakukan mulai dari lokasi pengambilan sampel sampai analisis di laboratorium. Batas penyimpanan maksimum sampel tergantung pada karakteristik sampel, sifat parameter uji dan teknik pengawetan.

 

C.    Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Kualitas Fisika dan Kimia Sampah

Pemeriksaan kualitas fisika adalah pemeriksaan yang dilakukan pada suatu sampel dengan melihat wujud secara fisik seperti bau, rasa, warna, kekeruhan dan sebagainya. Pemeriksaan kualitas kimia adalah pemeriksaan yang dapat dilhat berdasarkan struktur kandungan dalam sampel tersebut.

 Pengambilan sampel sampah untuk pemeriksaan secara fisika dan kimia berbeda, karena parameter yang diperiksa juga berbeda. Pada pemeriksaan kualitas fisika yang diperiksa adalah suhu, konduktivitas, warna, bau, kekeruhan, Daya Hantar Listrik (DHL), serta Total Suspended Solid (TSS). Sedangkan untuk pemeriksaan kualitas kimia yang diperiksa biasanya kesadahan (Mg, Cl, dll), Ph, alkalinitas, dan lainnya.

Untuk pemeriksaan secara fisika dan kimia biasanya sering digunakan sampel sampah cair atau licit. Pengambilan sampel pada pemeriksaan tersebut hampir sama dengan dengan pengambilan sampel air. Hal ini karena wujud yang sama yaitu cairan.

1.      Alat dan Bahan ;

1.  Botol timba

2.  Derigen plastik ukuran 5 Liter (sebaiknya berwarna putih)

3.  Botol plastik vol. 500 mL (2 buah)

4.  Botol oksigen vol. 250 mL

5.  Termos es untuk mendinginkan contoh

6.  Tas lapangan

7.  Alat tulis

8.  Buku catatan (bungkus dengan plastik)

9.  Alat dan Bahan untuk periksa parameter (yang diperlukan) ;

2.      Prosedur pengambilan sampel uji fisika

Prosedur kerja pengambilan sampel sampah cair untuk pemeriksaan kualitas fisika:

a)      Menyiapkan wadah sampel

b)     Membilas wadah sampel dengan air suling( aquadest);

c)      Menyiapkan alat pengambil sampel yang sesuai dengan keadaan sumber air;

d)     Membilas alat pengambil sampel dengan air suling;

e)      Membilas alat pengambil sampel sebanyak 3 kali dengan sampel yang akan diambil;

f)       Mengambil sampel sesuai titik sampling dan memasukkannya ke dalam wadah yang sesuai peruntukan analisis;

g)      Mengukur mencatat kondisi lapangan dan membuat peta lokasi.

h)     lakukan segera pengujian parameter lapangan seperti parameter lapangan : suhu, pH, oksigen terlarut (DO), kekeruhan (Turbidity), daya hantar listrik (DHL) dan TDS yang dapat berubah dengan cepat dan tidak dapat diawetkan;

i)       hasil pengujian parameter lapangan dicatat dalam buku catatan;

j)       Memberi label pada wadah sampel:

    Tanggal pengambilan sampel

    Lokasi pengambilan sampel                                                                     

    Jenis sampel                                 : Padatan / sampah / tanah *)

    Jenis pemeriksaan                        : Fisik / kimia / mikrobiologi dan parasitologi*)

    Nama petugas                                                                                         

    Tanda Tangan                                                                                          

 

k)     dilakukan pengawetan sesuai peruntukan pengujian di laboratorium

l)       Mengamankan sampel serta wadah (disegel dengan benar);

3.      Prosedur pengambilan sampel uji DO

Pengambilan sampel untuk pengujian oksigen terlarut (DO) dapat dilakukan secara umum dengan cara, yaitu:

a)      siapkan botol BOD yang bersih dengan volume yang diketahui serta dilengkapi dengan tutup;

b)     celupkan botol dengan hati-hati ke dalam air sampah dengan posisi mulut botol searah dengan aliran air, sehingga air masuk ke dalam botol dengan tenang;

c)      isi botol sampai penuh dan hindarkan terjadinya turbulensi serta gelembung udara selama pengisian, kemudian botol ditutup;

d)     sampel siap untuk dianalisa.

4.      Prosedur pengambilan sampel uji kimia

Tahapan pengambilan sampel sampah cair kualitas kimia untuk pengujian total logam dan terlarut, dilakukan sebagai berikut :

a)      bilas botol sampel dan tutupnya dengan sampel yang akan dianalisa;

b)     buang air pembilas dan isi botol dengan sampel hingga beberapa sentimeter (cm) di bawah puncak botol, agar masih tersedia ruang untuk menambahkan pengawet dan melakukan pengocokan;

c)      lakukan penyaringan sampel kemudian di analisa di laboratorium.

Namun terkadang tidak menutup kemungkinan pemeriksaan kualitas fisik dan kimia juga dilakukan pada sampel yang padat. Sampel padat dapat berasal dari rumah tangga, industri dan lainnya yang  biasa disebut sampah organik. Sampah ini mudah mengurai sehingga dalam pengambilan sampelnya dapat dilakukan pada tanah yang berada di sekitar sampah tersebut tempati. Namun perlakuan pada sampel cair dan padat tentunya berbeda. Perbedaannya berada pada wadah yang digunakan dan cara pengambilannya. Wadah yang digunakan biasanya berupa kantong plastik, petridish.

5.      Selang waktu antara sampling dan analisa

Makin pendek selang waktu antara pengambilan contoh atau sampel dan analisa, hasil akan semakin baik. Sebenarnya sukar untuk menentukan selang waktu tersebut karena tergantung  dari  sifat  sampel,  parameter  yang  akan  diperiksa  serta  cara penyimpanan. Perubahan yang diakibatkan oleh kegiatan organisme dapat dicegah dengan menyimpan dalam tempat gelap dan temperatur yang rendah  (lemari es) sampai pemeriksaan dilakukan. Berikut ini adalah batasan waktu maksimum untuk pemeriksaan  Fisika dan Kimia :

      Air Bersih                          72 jam

      Air Sedikit Tercemar        48 jam

      Air Kotor/Limbah            12 jam

6.      Titik pengambilan sampel sampah cair (leachete)

Lokasi pengambilan sampel pemeriksaan kualitas fisika dan kimia pada sampah cair (leachete) adalah di sekitar timbulan sampah yang akan diperiksa. Sedangkan pengambilan sampel sampah cair dapat diambil air lindi pada tumpukan sampah atau pada genangan air di sekitar sampah tersebut. Namun Data yang diperoleh dari lokasi pemantauan dan titik pengambilan harus dapat menggambarkan kualitas air limbah yang akan disalurkan ke perairan penerima.

Pemilihan lokasi dan titik pengambilan sampel air limbah bertujuan untuk:

  1. Mengetahui efisiensi proses produksi

Caranya adalah dengan mengambil sampel dari bak control limbah sebelum masuk ke pipa atau saluran gabungan yang menuju ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Pengambilan sampel di lokasi itu dilakukan apabila suatu industry menghasilkan berbagai jenis produk dengan proses produksi dan karakteristik limbah yang berbeda. Semakin kecil konsentrasi air limbah dan beban pencemaran, efisiensi produksi semakin tinggi dan begitu juga sebaliknya.

  1. Mengevaluasi efisiensi IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)

Dalam hal ini, sampel diambil pada titik masuk (inlet) dan keluar (outlet) IPAL dengan memerhatikan waktu retensi. Sampel harus diambil pada waktu proses instalasi berjalan normal.

  1. Mengendalikan pencemaran air

Untuk itu sampel diambil pada titik-titik berikut:

    Titik perairan penerima sebelum air limbah masuk ke badan air. Pengambilan itu untuk mengetahui kualitas perairan sebelum dipengaruhi air limbah. Data hasil pengujian sampel biasanya digunakan sebagai pembanding atau control

    Titik akhir saluran pembuangan limbah (outlet) sebelum air limbah disalurkan ke perairan penerima. Sampel diambil di situ untuk mengetahui kualitas effluent. Apabila data hasil pengujiannya melebihi nilai baku mutu lingkungan, dapat disimbulkan bahwa industry terkait melanggar hukum

    Titik perairan penerima setelah air limbah masuk ke badan air, namun sebelum menerima air limbah lainnya. Pengambilan tersebut untuk mengetahui kontribusi air limbah terhadap kualitas perairan penerima. 

D.   Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Kualitas Mikrobiologi dan Parasitologi Sampah

Pemeriksaan kualitas mikrobiologi adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk menguji kandungan mikroba yang terdapat dalam sampel sampah yang diuji. Pemeriksaan kualitas parasitologi adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk menentukan parasit yang terkandung pada sampah yang diuji. Pemeriksaan dan pengambilan sampel secara mikrobiologi harus dilakukan steril baik dari wadah, maupun personilnya.

Sampah mengandung zat-zat hidup, khususnya bakteri, virus, dan protozoa, dan dengan demikian merupakan wadah yang baik sekali untuk pembiakan jasad-jasad renik. Kebanyakan daripada bakteri itu secara relatif tidak berbahaya namun sebagian dari mereka  secara positif berbahaya karena pathogenik (Mahida, 1997). Sehingga diperlukan pemeriksaan secara mikrobiologi dan parasitologi untuk mengetahui kandungan mikroba dan parasit yang membahayakan pada sampel sampah tersebut.

Pengambilan sampel untuk pemeriksaan mikrobiologi harus dilakukan secara steril agar tidak terkontaminasi dengan zat lain yang ada di sekitar lokasi pengambilan sampel. Sama halnya dengan pengambilan sampel pemeriksaan parasitologu namun jika pemeriksaan ini tidak perlu steril namun harus tetap bersih. Pemeriksaan secara mikrobologi dilakukan terhadap sampel yang berupa padat dan cair. Pada pengambilan sampel sampat padat yang diambil adalah tanah tempat timbulan sampah. Sedangkan untuk sampah cair prosedur pengambilan dilakukan sama dengan pengambilan sampel air.

1.      Alat dan bahan


  1. Sampel padat

 

    Wadah sampel (petridish, kantong plastik)

    Sarung tangan

    Kertas label

    Timbangan

    Pisau

    Sampah organik

    Bor tangan

    Sekop kecil dari bahan metal, plastik, dan kayu

    pH soil tester

    Termometer

 

    Checklist pengambilan sampel

    Rol meter

 

  1. Sampel cair

 

    Botol sampel dengan tali dan pemberat

    Botol sampel tanpa tali dan pemberat

    Kruistang

    Spiritus / alkohol

    Alat tulis

    Korek api

    Kertas label / etiket

    Tas sampling

    Kapas


2.      Prosedur pengambilan sampel uji mikrobiologi dan parasitologi

Prosedur pengambilan sampel padat untuk pemeriksaan kualitas mikrobiologi :

a)      Mensterilisasi alat dan bahan yang akan digunakan dengan menggunakan autoclave

b)     Gunakan sarung tangan agar dapat terjaga kesterilannya

c)      Ambil sampah dan masukkan kedalam wadah yang telah disediakan

d)     Semprotkan bahan kimia sebagai pengawet sampel

e)      Tutup wadah tersebut dan beri label:

    Tanggal pengambilan sampel                                                                            

    Lokasi pengambilan sampel                                                                     

    Jenis sampel                                               : Padatan / sampah / tanah *)

    Jenis pemeriksaan                         : Fisik / kimia / mikrobiologi dan parasitologi*)

    Jenis pengawet yang digunakan

    Nama petugas                                                                                          

    Tanda Tangan                                                                                          

f)       Simpan ditempat pengawetan sampel

3.      Titik pengambilan sampel sampah padat

Lokasi pengambilan sampel sampah padat untuk pemeriksaan mikrobiologi dan parasitologi dapat di lakukan di TPA atau di pembuangan sampah rumah tangga.

 

FORMULIR BERITA ACARA

PENGAMBILAN SAMPEL

Pada hari……………, tanggal…………………, bulan…………………, tahun……….., kami yang bertanda tangan dibawah ini :

1. Nama      :

Instansi       :

Jabatan        : Ketua tim pengambil sampel

2. Nama       :

Instansi       :

Jabatan       : Anggota tim pengambil sampel

Telah melakukan pengambilan sampel pada lokasi…………………………………..

Titik pengambilan sampel serta perlakuan seperlunya telah dilakukan sebagaimana diuraikan dalam tabel di bawah ini :

Tanggal

Titik pengambilan Sampel

Kode Sampel

Perlakuan

Parameter Uji

         
         

 

Dokumen perencanaan pengambilan sampel dan rekaman data pengambilan sampel merupakan bagian tidak terpisahkan dari berita acara pengambilan sampel ini.

Demikian berita acara pengambilan sampel ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Ketua tim pengambil sampel, Mengetahui saksi,

 

(………………………………..) (……………………….)

BAB 3. PENUTUP

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Pengambilan sampel adalah suatu prosedur tertentu yang diikuti apabila suatu substansi, bahan atau produk diambil untuk keperluan pengujian sampel yang representatif dari keseluruhannya.
  2. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam perencanaan pengambilan sampel adalah :

      Menentukan tujuan pengambilan sampel;

      Menentukan alat pengambil sampel yang sesuai;

      Menentukan apakah pengambilan sampel harus sesuai dengan standar atau peraturan tertentu;

      Menentukan metode analisis;

      Pemilihan teknik sampling dan menetukan apakah sampling dilakukan secara random atau acak;

      Menentukan jumlah, volume dan jenis wadah sampel;

      Menentukan waktu, lokasi sampling dan jenis sampel;

      Menentukan frekuensi sampling;

      Menyiapkan pengendalian mutu;

      Menyiapkan dokumentasi (daftar periksa persiapan pengambilan sampel, formulir rekaman dat pengambilan sampel, laporan pengambilan sampel).

  1. Pengamanan sampel terdiri dari :

      Identifikasi/pengkodean sampel

      Pengemasan sampel

      Penyegelan wadah sampel, bila diperlukan

      Tindakan pencegahan selama transportasi ke laboratorium, jika ada ketidak sesuaian

      Penyimpanan sampel di laboratorium

  1. Persiapan yang harus dilakukan sebelum pengambilan sampel di lapangan adalah:

      Personel pengambil sampel

      Persiapan peralatan pengambil sampel

      Persiapan peralatan pengukuran di lapangan

      Persiapan peralatan pendukung

      Persiapan prosedur pengambilan sampel

      Persiapan wadah sampel

      Persiapan bahan pengawet, bila diperlukan

      Mengkalibrasi alat pengukur parameter lapangan

      Persiapan dokumentasi

      Persiapan pengendalian mutu lapangan

      Persiapan rekaman lapangan.

  1. Pemeriksaan kualitas fisika adalah pemeriksaan yang dilakukan pada suatu sampel dengan melihat wujud secara fisik seperti bau, rasa, warna, kekeruhan dan sebagainya.
  2. Pemeriksaan kualitas kimia adalah pemeriksaan yang dapat dilhat berdasarkan struktur kandungan dalam sampel tersebut.
  3. Pemeriksaan kualitas mikrobiologi adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk menguji kandungan mikroba yang terdapat dalam sampel sampah yang diuji.
  4. Pemeriksaan kualitas parasitologi adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk menentukan parasit yang terkandung pada sampah yang diuji.
About these ads
Posted in: Uncategorized