PENYEHATAN TANAH DAN PENGOLAHAN SAMPAH “PERENCANAAN PROGRAM PENGELOLAAN SAMPAH”

Posted on Oktober 21, 2012

0


  1. 1.      Pengumpulan sampah

Sampah sebelum dibuang harus dikumpulkan dulu asalnya mengunakan sapu, penggaruk, gerobak, dll. Akan tetapi pengumpulan sampah bukan sekedar mengumpulkan, tetapi mengangkutnya sampah ketempat pengumpulan atau tempat pembuangan sementara (TPS). Pengumpulan sampah dapat dilakukan satu kali dalam sehari karena pasar merupakan penghasil sampah yang jumlahnya banyak khususnya sampah organik, dimana dapat menimbulkan bau yang busuk dan perkembangbiakan lalat dan tikus.

Pengumpulan Limbah Padat

Pengumpulan sampah merupakan cara atau proses pengambilan sampah dari sumber-sumber sampah sampai ke tempat pembuangan sementara dengan sistem langsung maupun tidak langsung. Pada umumnya sistem pengumpulan sampah di kota Besar sudah berjalan dengan baik. Namun daerah layanan sampah perkotaan yang rendah dan tidak jelasnya strategi pengumpulan sampah berdampak negatif terhadap lingkungan perkotaan. Masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan sampah cenderung untuk memperlakukan sampahnya dengan cara dan metode mereka sendiri.

Oleh karena itu, diperlukan strategi pengumpulan sampah berdasarkan karakteristik perkotaan di Indonesia. Usaha pengumpulan sampah sebaiknya mempertimbangkan kondisi kawasan pemukiman rumah tinggal. Tata letak dan kondisi jalan menjadi faktor penting dalam usaha pengumpulan sampah. Jenis kendaraan pengumpulan sampah yang tepat digunakan di kota Besar adalah gerobak dan Truk konvensional. Pengumpulan sampah yang berlaku selama ini di sumber sampah yaitu sampah rumah tangga, tempat- tempat komersial, toko, pasar, fasilitas umum lainnya adalah dengan proses pewadahan dimana pemerintah kota dalam hal ini dinas kebersihan kota menyediakan tong-tong sampah atau bak sampah.

Tong-tong sampah tersebut ditempatkan didepan rumah dan di depan toko serta tempat tempat yang dianggap strategis penghasil sampah.Proses penanganan sampah pada tingkat ini sangat menentukan proses selanjutnya.Seluruh sampah dengan berbagai jenis masuk dalam satu tong sampah.Dalam tiap tiap tong sampah berisi dengan berbagai jenis sampah seperti : plastik, kertas,sampah organik,kaca/gelas,logam dan lain lainnya.Pada periode tertentu dilakukan pengambilan oleh petugas dari bagian kebersihan kota.Selain itu masyarakat juga dapat membuang sampahnya ke TPSS yang tersedia.

Pada umumnya teknik pengumpulan limbah padat/sampah dilaksanakan dengan 2 cara, yaitu :

a)       Door to door,

Yaitu pengumpulan limbah padat dilakukan oleh petugas kebersihan dengan cara mendatangi tiap-tiap rumah tangga penghasil sampah.Sebagai alat angkut, biasanya digunakan gerobak, dumb truck, dan kijang.Sampah-sampah yang diangkut kemudian dikumpulkan di tempat penampungan sementara yang kemudian akan diangkut oleh truk dan dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Daerah yang dilayani dengan cara door to door adalah daerah dengan lingkungan permukiman yang sudah teratur misalnya perumahan dan tempat-tempat umum.Cara ini menggunakan penjadwalan yang sangat jelas dan dengan adanya pembebanan biaya retribusi untuk setiap rumah-rumah yang sampahnya terangkut oleh petugas, karena sampah selalu diangkut oleh petugas setiap hari dan pada waktu pagi sehingga tidak terlihat adanya penumpukan sampah di rumah-rumah.

b)      Komunal,

Yaitu  pengumpulan sampah yang dilakukan sendiri oleh masing-masing rumah tangga ke tempat yang telah disediakan.Tempat tersebut berupa bak sampah dan container, yang selanjutnya akan diangkut oleh petugas kebersihan.Cara ini biasanya dilakukan pada daerah-daerah yang belum teratur dan kepadatan yang tinggi.

Pengumpulan sampah dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Perorangan yaitu orang mengumpulkan sampah untuk dibuang pada tempat pembuangan sampah sementara.
  2. Pemerintah yaitu petugas kebersihan yang mengumpulkan dengan menggunakan truk atau gerobak sampah.
  3. Swasta yaitu hanya mengambil sampah-sampah tertentu sebagai bahan baku perusahaan, seperti pembuatan kertas, karton dan plastik.

 

Adapun pola pengumpulan sampah sebagai berikut:

  1. Pola Individual Langsung

Adalah cara pengumpulan sampah dari rumah-rumah atau sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemindahan.

  1. Pola Individual tidak Langsung

Adalah cara mengumpulkan sampah dari masing-masing sumber sampah di bawah lokasi pemindahan dengan menggunakan gerobak kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir atau TPA.

  1. Pola Komunal Langsung

Adalah cara pengumpulan sampah dari masing-masing titik wadah komunal dan diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA).

  1. Pola Penyapuan Langsung

Adalah cara pengumpulan sampah hasil penyapuan jalan menggunakan gerobak (Departemen PU. 1993). Dalam sistem pengumpulan sampah yang perlu diperhatikan adalah waktu, frekuensi pengumpulan, pengangkutan, pekerja, dan, peralatan yang digunakan, biaya partisipasi dan lain.

  1. 2.                   Pengangkutan Sampah (transport)

Pengangkutan sampah adalah pemindahan sampah dari tempat pembuangan sementara ke tempat pembuangan akhir yang relatif besar. Pengangkutan sampah adalah sub-sistem yang bersasaran membawa sampah dari lokasi pemindahan atau dari sumber sampah secara langsung menuju tempat pemerosesan akhir, atau TPA. Pengangkutan sampah merupakan salah satu komponen penting dan membutuhkan perhitungan yang cukup teliti, dengan sasaran mengoptimalkan waktu angkut yang diperlukan dalam sistem tersebut, khususnya bila:

  • Terdapat sarana pemindahan sampah dalam skala cukup besar yang harus menangani sampah
  • Lokasi titik tujuan sampah relatif jauh
  • Sarana pemindahan merupakan titik pertemuan masuknya sampah dari berbagai area
  • Ritasi perlu diperhitungkan secara teliti Masalah lalui-lintas jalur menuju titik sasaran tujuan sampah

Dengan optimasi sub-sistem ini diharapkan pengangkutan sampah menjadi mudah, cepat, dan biaya relatif murah. Di negara maju, pengangkutan sampah menuju titik tujuan banyak menggunakan alat angkut dengan kapasitas besar, yang digabung dengan pemadatan sampah, seperti yang terdapat di perkotaan besar seperti Jakarta.

 

Persyaratan alat pengangkut sampah antara lain adalah:

  • Alat pengangkut harus dilengkapi dengan penutup sampah, minimal dengan jaring. Tinggi bak maksimum 1,6 m.
  • Sebaiknya ada alat ungkit.
  • Kapasitas disesuaikan dengan kondisi/kelas jalan yang akan dilalui.
  • Bak truk/dasar kontainer sebaiknya dilengkapi pengaman air sampah.

 

 

Beberapa jenis/tipe truk yang dioperasikan pada subsistem pengangkutan ini, yaitu seperti ditampilkan pada Tabel 1

 

 

 

Tabel 1. Peralatan Subistem Pengangkutan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pola pengangkutan sampah dapat dilakukan berdasarkan sistem pengumpulan sampah sebagai berikut :

  1. Untuk pengumpulan sampah yang dilakukan dengan sistem pemindahan (Transport Depo) dilakukan dengan cara :
    1. Kendaraan angkutan dari pool lansung menuju lokasi pemindahan atau transfer depo untuk mengangkut sampah lansung ketempat pembuangan akhir (TPA).
    2. Dari tempat pembuangan akhir kendaraan tersebut kembali ke transfer depo untuk pengambilan pada ret berikutnya.
  2. Untuk pengumpulan sampah kontainer dengan sistem kontainer pola pengangkutan sebagai berikut:

Sistem pengosongan kontainer dengan proses:

  1. Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke TPA.
  2. Kontainer kosong dikembalikan ke tepat semula.
  3. Kendaraan menujuh ke kontainer isi berikutnya untuk di angkut ke TPA.
  4. Demikian sampai ret berakhir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beberapa Jenis Kendaraan Angkut

Beberapa jenis kendaraan angkut yang biasa digunakan dalam sistem pengelolaan sampah di kota, khususnya di Negara maju, adalah sebagai berikut:

  • Truk terbuka:
    • Hanya sebagai pengangkut sampah, tanpa ada perlakuan lain.
    • Perlu penutupan timbunan sampah di truk agar tidak beterbangan.
    • Tidak dianjurkan kecuali bila dana terbatas.
  • Dump truck:
    • Truk pengangkut sampah yang dilengkapi dengan penutup kontainer.
    • Dianjurkan, karena lebih mudah dalam pembongkaran sampah di tujuan
  • Arm-roll truck, Roll-on truck, Multi-loader truck:
    • Truk pengangkut yang dilengkapi mesin pengangkat kontainer.
    • Dianjurkan untuk daerah pasar dan sumber sampah besar lainnya.
  • Compactor truck:
    • Truk pengangkut yang dapat mengkompaksi sampah sehingga dapat menampung banyak sampah.
    • Untuk kota-kota besar dan metropolitan

Contoh jenis-jenis sarana pengumpulan dan pengangkurtan sampah terlihat dalam gambar-gambar berikut. Disamping itu, kadangkala penanganan sampah membutuhkan perlakuan khusus, dengan alat angkut yang secara khusus disesuaikan kebutuhan, seperti untuk:

  • Limbah yang akan didaur -ulang: botol, kertas, dsb
  • Limbah yang bervolume besar, seperti mebel, batang pohon, puing bangunan, dsb
  • Lumpur hasil pengolahan limbah cair Limbah berbahaya

 

 

  1. 3.      Timbulan sampah

Sampah merupakan masalah yang umum terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Yogyakarta dan Semarang. Meski demikian tidak berarti masalah ini tidak menjadi masalah bagi kota-kota lain seperti Bandar Lampung. Sampah diidentifikasikan sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya eksternalitas negatif terhadapa kegiatan perkotaan.

Pengelolaan sampah di Indonesia masih menggunakan paradigma lama: kumpul-angkut-buang. Source reduction (reduksi mulai dari sumbernya) atau pemilahan sampah belum berjalan dengan baik. Meski telah ada upaya pengomposan dan daur ulang tapi masih tebatas dan tidak sustainable.

Pada dasarnya jumlah timbulan sampah dapat dihitung dengan menggunakan perhitungan tertentu. Perhitungan jumlah timbulan sampah ini nantinya bisa dimanfaatkan sebagai dasar untuk menentukan arah kebijakan dalam pengelolaan sampah.

Kota Bandar Lampung memiliki tiga belas kecamatan, Tanjung Karang Timur adalah salah satu kecamatan yang penduduknya padat. Salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Tanjung Karang Timur adalah kelurahan Rawa Laut. Kelurahan ini juga termasuk kelurahan yang padat penduduknya karena terletak di jantung kota Bandar Lampung. Di kelurahan ini tinggal sekitar 6015 orang penduduk, terdiri dari 1315 orang memiliki tingkat penghasilan yang tinggi (high income), 3600 orang memiliki tingkat penghasilan menengah (Medium Income) dan 1100 orang berpenghasilan rendah (Low income).

Setiap harinya rata-rata membuang sampah sebanyak 2,3 liter/orang bagi penduduk berpenghasilan tinggi, 2,0 liter/orang bagi penduduk berpenghasilan menengah dan 1,7 liter/orang bagi penduduk berpenghasilan rendah. Dari data di atas maka rata-rata jumlah timbulan sampah yang dihasilkan oleh penduduk kelurahan Bandar Lampung dapat dihitung sebagai berikut:

 

  1. Untuk penduduk berpenghasilan tinggi 1315 x 2,3 Liter/org/hari = 3024.5 Liter/orang/hari
  2. Untuk penduduk berpenghasilan menengah 3600 x 2,0 Liter/org/hari = 7200 Liter/org/hari
  3. Untuk penduduk berpenghasilan rendah 1100 x 1,7 Liter/org/hari = 1870 Liter/org/hari Maka jumlah rata-rata timbulan sampah penduduk kelurahah Rawa Laut, Kecamatan Tanjung Karang Timur adalah 12.094.5 Liter/orang /hari. Setiap tahun rata-rata jumlah timbulan sampah yang dihasilkan oleh penduduk kelurahan Rawa Laut adalah 12.094,5 x 365 = 4.414.492,5 Liter/tahun.

Jadi dapat diperkirakan setiap tahunnya penduduk kelurahan Rawa Laut menghasilkan timbulan sampah sebesar 4.414.492,5 Liter/tahun.

 

Satuan yang digunakan dalam pengukuran timbulan sampah adalah:

  1. Volume basah (asal): L/unit/hari
  2. Berat basah (asal): Kg/unit/hari

Satuan yang digunakan dalam pengukuran komposisi sampah adalah dalam % berat basah/asal. Jumlah unit masing-masing lokasi pengambilan contoh timbulan sampah, yaitu:

  1. Perumahan: jumlah jiwa dalam keluarga
  2. Toko: jumlah petugas/luas areal
  3. Sekolah: jumlah murid dan guru
  4. Pasar: luas pasar atau jumlah pedagang
  5. Kantor: jumalha pegawai
  6. Jalan: panjang jalan dalam meter
  7. Hotel: jumlah tempat tidur
  8. Restoran: jumlah kursi/luas areal
  9. Fasilitas umum lainnya: luas areal

Metode pengukuran contoh timbulan sampah, yaitu:

  1. Sampah terkumpul diukur volume dengan wadah pengukur 40 Liter dan ditimbang beratnya, dan/atau;
  2. Sampah terkumpul diukur dalam bak pengukur besar 500 Liter dan ditimbang beratnya, kemudian dipisahkan berdasarkan komponen komposisi sampah dan ditimbang beratnya.

Perhitungan besaran timbulan sampah perkotaan berdasarkan

  1. Rata-rata timbulan sampah perumahan
  2. Perbandingan total sampah perumahan dan non perumahan

Pengambilan contoh dapat dilakukan dengan frekuensi sebagai berikut:

  1. Pengambilan contoh dilakukan dalam waktu 8 hari berturut-turut pada lokasi yang sama dan dilaksanakan dalam 2 pertengahan musim tahun pengambilan contoh.
  2. Butir 1 dilakukan paling lama 5 tahun sekali.

 

  1. Penyimpanan Sampah

Setiap hari manusia menghasilkan sampah baik yang merupakan sampah rumah tangga maupun sampah industri yang bermacam-macam bentuk dan jenisnya. Sampah jika tidak diurus dan dikelola dengan baik dapat menyebabkan masalah lingkungan yang sangat merugikan. Sampah yang menumpuk dan membusuk dapat menjadi sarang kuman dan binatang yang dapat mengganggu kesehatan manusia baik badan maupun jiwa, serta mengganggu estetika lingkungan karena terkontaminasi pemandangan tumpukan sampah dan bau busuk yang menyengat hidung.

Berikut ini adalah hal-hal yang wajib diperhatikan dalam mengelola tempat sampah rumah tangga / tempat pembuangan sampah pribadi di rumah-rumah :

  1. Pisahkan sampah kering / non organik dengan sampah basah / organik dalam wadah plastik.
  2. Tempat sampah harus terlindung dari sinar matahari langsung, hujan, angin, dan lain sebagainya.
  3. Hindari tempat sampah menjadi sarang binatang seperti kecoa, lalat, belatung, tikus, kucing, semut, dan lain-lain.
  4. Buang sampah dalam kemasan plastik yang tertutup rapat agar tidak mudah berserakan dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Selain itu juga memudahkan tukang sampah dalam mengambil sampah. Jangan biarkan pemulung mengobrak-abrik sampah yang sudah dibungkus rapi.
  5. Tempat sampah harus tertutup aman dari segala gangguan namun mudah dijangkau petugas kebersihan.
  6. Jangan membakar sampah di lingkungan padat penduduk karena dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan orang lain.

 

 

Referensi

Unknown .2008.Diktat Pengelolaan Sampah TL-3104. Bandung

Damanhuri, Enri dan Tri Padmi.2008.Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB.Bandung.

Azaluddin. (2009, 12 04). Pengelolaan Sampah. Retrieved 10 04, 2012, from http://www.azaludin.com: http://www.azaludin.com

Juju. (2012, 05 12). http://www.jujubandung.com/pengolahan-sampah-limbah. Retrieved 09 04, 2012, from http://www.jujubandung.com:

Lukman, Ami.(2011, 03, 110.http://www.amiilukman.blogspot.com/perhitungan-jumlah-timbulan-sampah-di-kelurahan-rawa-laut-tanjungkarang-timur.html. retrived 09 04, 2012, from http://www.amiilukman.blogspot.com

Sumudro, G. (2010, 02 17). http://www.sumdro.com/pengkuran-dan-penimbulan-jumlah-sampah.html. Retrieved 09 04, 2012, from http://www.sumdro.com: http://www.sumdro.com

Posted in: Uncategorized