Alat Pemeriksaan Sampel Fisika, Kimia, Mikrobiologi dan Parasitologi Sampah

Posted on Oktober 25, 2012

0


II.PEMBAHASAN

II.1.Alat Pemeriksaan Sampel Fisika, Kimia, Mikrobiologi dan Parasitologi Sampah

 

II.1.1.Pemeriksaan Sampel Fisika

Pemeriksaan Kadar Air, Kadar  Volatil dan Kadar Abu

Alat yang digunakan:

  1. Neraca Analitik
  2. Oven
  3. Furnace
  4. Desikator
  5. Cawan Krus
  6. Lumpang dan Alu
  7. Penjepit (Tang Krus)

 

II.1.2.Pemeriksaan Sampel Kimia

Pemeriksaan Kadar Logam

Alat yang digunakan:

  1. AAS/SSA (Spektofotometer Serapan Atom)
  2. Labu ukur
  3. Pipet tetes
  4. Pipet takar 10 ml dan 5 ml;
  5. Erlenmeyer 100 ml
  6. Corong
  7. Kertas saring
  8. Kompor listrik
  9. Cawan

 

II.1.3.Pemeriksaan Sampel Mikrobiologi:

MPN Coliform

Alat yang digunakan:

  1. Tabung Reaksi dan Tabung Durham
  2. Petridish Steril
  3. Pipet ukur steril
  4. Lampu spirtus
  5. Inkubator
  6. Oven
  7. Autoklaf
  8. Hot Plate
  9. Erlenmeyer
  10. Ball filler
  11. Ose bulat
  12. Rak tabung
  13. Kertas pembungkus
  14. Termometer
  15. Sendok Plastik
  16. Batang pengaduk
  17. Kapas
  18. Neraca analitik

II.1.4.Pemeriksaan Sampel Parasitologi

Pemeriksaan Cacing dan Telur Cacing

Alat yang digunakan:

  1. Tabung reaksi
  2. Mikroskop
  3. Object glass
  4. Deglass
  5. Sentrifuger
  6. Tabung sentrifuge Rak tabung
  7. Pipet tetes
  8. Beaker glass

 

II.2.Prosedur Kerja Alat Pemeriksaan Fisika, Kimia, Mikrobiologi dan Parasitologi

II.2.1.Pemeriksaan Fisika

Pemeriksaan kadar air, kadar volatile dan kadar abu menggunakan metode gravimetri. Gravimetri adalah metode pemeriksaan jumlah zat dengan cara penimbangan hasil reaksi pengendapan. Alat yang digunakan adalah neraca analitik digital. Secara umum proses menimbangan dengan neraca elektronik/digital adalah:

  1. Pastikan bahwa timbangan sudah menyala
  2. Pastikan timbangan menunjukkan angka ”nol”( jika tidak perlu di koreksi)
  3. Letakakan benda yang massanya akan diukur pada piringan tempat benda
  4. Baca skala yang tertera pada display digital sesuai skala satuan timbangan tersebut.

Cara menggunakan neraca analitik:

  1. Nolkan terlebih dulu neraca tersebut
  2. Letakkan zat yang akan ditimbang pada bagian timbangan
  3. Baca nilai yang tertera pada layar monitor neraca
  4. Setelah digunakan, nolkan kembali neraca tersebut

II.2.2.Pemeriksaan Kimia

Pemeriksaan kimia sampah diantaranya meliputi pemeriksaan kadar logam. Pemeriksaan kadar logam menggunakan alat AAS/SSA (Spektofotometer Serapan Atom).

Pengoperasian dan optimasi alat AAS:

  1. Alat dipanaskan dengan menekan tombol on
  2. Kompresor dihidupkan dan tabung gas C2H2 dibuka serta diset pada angka17 psiq
  3. Cerobong pembukaan gas dihidupkan
  4. Saat display menunjukkan “New recall method” tekan enter
  5. Nilai arus Halow Cathode Lamp (75 % dari yang tertera) diketikkan, yaitusebesar 22 mA lalu tekan enter
  6. Nilai slit sebesar 0,7 nm dimasukkan lalu tekan enter
  7. Nilai  λ  (panjang gelombang) yaitu 324,8 nm dimasukkan lalu tekan enter
  8. Time integration (lama pembacaan) yaitu 0,7 sekon di ketik lalu tekan enter
  9. Replicate (pengulangan pembacaan) yaitu sebanyak 3x diketik lalu tekan enter
  10. Hold 1 dipilih untuk metode pembacaan
  11. Curve calibration linier (2) dipilih lalu tekan enter
  12. “no” ditekan jika curve calibration tidak akan dicetak lalu tekan enter
  13. Enter secara terus menerus ditekan sampai mode pada display kembali ke lamp current
  14. Burner dinyalakan dengan menekan tombol flame on / off 
  15. Cont ditekan untuk memulai optimalisasi absorbansi
  16. Larutan blanko dimasukkan kemudian tekan A/Z (auto zero) pada saat absorbansi menunjukkan harga nol (0,000)
  17. Larutan standar dimasukkan dengan konsentrasi terendah yaitu 5 ppm untuk memperoleh harga absorbansi mendekati 0,200. Jika belum tercapai laju alir gas (bahan bakar) diatur dengan cara knob nebulizer diputar ke kiri dan ke kanan
  18. Setelah harga absorbansi mendekati 0,200, larutan blanko dimasukkan dan tunggu sampai harga absorbansi kembali ke nol (0)
  19. Tekan data untuk memulai pengukuran
  20. Semua larutan standar dimasukkan mulai dari konsentrasi terendah sampai tertinggi kemudian tekan read
  21. Sampel dimasukkan tekan read
  22. Kurva kalibrasi dibuat.

 

II.2.3.Pemeriksaan Mikrobiologi

Salah satu cara pemeriksaan mikrobiologi sampah adalah MPN Coliform. Alat instrumen utama yang digunakan adalah autoklav dan inkubator. Autoklaf berfungsi untuk mensterilkan media LB dan media BGLB sebagai media biakan coliform. Inkubator berfungsi untuk menginkubasi (mengembangbiakkan) coliform.

Cara menggunakan autoklaf:

  1. Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.
  2. Masukkan  media LB dan BGLB dalam tabung reaksi yang telah dibungkus kertas.
  3. Tutup autoklaf dengan  rapat  lalu kencangkan baut pengaman agar  tidak ada uap yang  keluar  dari  bibir  autoklaf.  Klep  pengaman  jangan  dikencangkan  terlebih dahulu.
  4. Nyalakan  autoklaf,  diatur  timer  dengan  waktu  minimal  15  menit  pada  suhu 121oC.
  5. Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf dan  terdesak  keluar  dari  klep  pengaman.  Kemudian  klep  pengaman  ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15’ dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.
  6. Jika  alarm  tanda  selesai  berbunyi,  maka  tunggu  tekanan  dalam  kompartemen turun  hingga  sama  dengan  tekanan  udara  di  lingkungan  (jarum  pada  preisure gauge  menunjuk  ke  angka  nol).  Kemudian  klep-klep  pengaman  dibuka  dan keluarkan isi autoklaf dengan hati-hati.

Cara penggunaan  inkubator adalah medium yang sudah dimasukan ke dalam tabung reaksi dan  terbungkus  kertas  dimasukan  ke  dalam  inkubator  selama  24-48  jam dengan suhu 35oC.

 

II.2.4.Pemeriksaan Parasitologi

Inti dari pemeriksaan parasitologi adalah ketelitian dalam pengamatan objek dengan menggunakan mikroskop. Langkah-langkah menggunakan mikroskop:

  1. Letakkan mikroskop di atas meja dengan cara memegang lengan mikroskop sedemikian rupa sehingga mikroskop berada persis di hadapan pemakai.

 

  1. Putar revolver sehingga lensa obyektif dengan perbesaran lemah berada pada posisinya satu poros dengan lensa okuler yang ditandai bunyi klik pada revolver.

 

  1. Mengatur cermin dan diafragma untuk melihat kekuatan cahaya masuk, hingga dari lensa okuler tampak terang berbentuk bulat (lapang pandang).

 

  1. Tempatkan preparat pada meja benda tepat pada lubang preparat dan jepit dengan penjepit obyek / benda.

 

  1. Aturlah fokus untuk memperjelas gambar obyek dengan cara memutar pemutar kasar, sambil dilihat dari lensa okuler. Untuk mempertajam putarlah pemutar halus.

 

  1. Apabila bayangan obyek sudah ditemukan, maka untuk memperbesar gantilah lensa obyektif dengan ukuran dari 10 X,40 X atau 100 X, dengan cara memutar revolver hingga bunyi klik.

 

 

II.3.Kalibrasi Alat Pemeriksaan Sampel Fisika, Kimia, Mikrobiologi dan Parasitologi Sampah

Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabulary of International Metrology (VIM), kalibrasi adalah kegiatan yang menghubungkan nilai yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur dengan nilai-nilai yang sudah diketahui tingkat kebenarannya (yang berkaitan dengan besaran yang diukur). Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. (Rouessac 2007 dalam novi maya)

Kalibrasi neraca analitik digital meliputi:

  1. Pengontrolan Neraca Digital:

Timbangan/Neraca dikontrol dengan menggunakan anak timbangan yang sudah terpasang atau dengan dua anak timbangan eksternal, misal 10 gr dan 100 gr. Timbangan/Neraca digital, harus menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur. Jika menggunakan timbangan yang sangat sensitif, hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan. Timbangan harus terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka “nol” harus dicek dan jika perlu lakukan koreksi. Penyimpangan berat dicatat pada lembar/kartu kontrol, dimana pada lembar tersebut tercantum pula berapa kali timbangan harus dicek. Jika timbangan tidak dapat digunakan sama sekali maka timbangan harus diperbaiki oleh suatu agen (supplier).

  1. Penanganan Neraca:

Kedudukan timbangan harus diatur dengan sekrup dan harus tepat horizontal dengan spirit level (waterpass) sewaktu-waktu timbangan bergerak, oleh karena itu, harus dicek lagi. Jika menggunakan timbangan elektronik, harus menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur. Jika menggunakan timbangan yang sangat sensitif, kita hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan. Timbangan harus terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka “nol” harus dicek dan jika perlu lakukan koreksi. Setiap orang yang menggunakan timbangan harus merawatnya, sehingga timbangan tetap bersih dan terawat dengan baik. Jika tidak, si pemakai harus melaporkan kepada manajer laboratorium timbangan harus dikunci jika anda meninggalkan ruang kerja.

  1. Kebersihan Neraca:

Kebersihan timbangan harus dicek setiap kali selesai digunakan, bagian dan menimbang harus dibersihkan dengan menggunakan sikat, kain halus atau kertas (tissue) dan membersihkan timbangan secara keseluruhan timbangan harus dimatikan, kemudian piringan (pan) timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan pembersih seperti deterjen yang lunak, campurkan air dan etanol/alkohol. Sesudah dibersihkan timbangan dihidupkan dan setelah dipanaskan, cek kembali dengan menggunakan anak timbangan.

 

Kalibrasi AAS/SSA meliputi:

Metode I : Metode Kalibrasi Langsung:

Dibuat tidak kurang dari tiga larutan baku yang mengandung unsur yang akan ditetapkan kadarnya, dan mencakup jangkauan kadar larutan uji yang akan diukur. Masing-masing larutan baku diukur serapannya dan dibuat kurva kalibrasi antara serapan (absorbsi) terhadap konsentrasi. Untuk memperoleh kadar larutan uji, yaitu nilai serapan larutan uji dimasukkan ke dalam persamaan linier kurva kalibrasi.

Metode II : Metode Penambahan Baku:

Dibuat tidak kurang dari tiga larutan uji, kepada masing-masing larutan uji ditambahkan sejumlah tertentu (diketahui jumlahnya) larutan baku dari unsur yang akan ditetapkan. Satu larutan uji tidak ditambahkan larutan baku (misal : ada 6 buah labu larutan uji, maka hanya 5 labu yang ditambahkan larutan baku) dengan konsentrasi yang membentuk deret pengenceran. Kemudian masing-masing larutan diukur serapannya dan dibuat kurva kalibrasi antara serapan terhadap konsentrasi baku yang ditambahkan. Selanjutnya dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke sumbu konsentrasi (sumbu X), dan titik potong dengan sumbu itu menunjukkan konsentrasi larutan uji.

 

Kalibrasi Autoklaf:

Untuk mendeteksi jika autoklaf bekerja dengan baik atau sempurna dapat digunakan dengan pengujian mikroba yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus Stearothermophilus. Dalam bentuk kertas spora strip dimasukan kedalam autoklaf dan disterilkan, setelah proses sterilisasi kemudian ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka autoklaf  bekerja secara baik.

 

Kalibrasi Inkubator:

  1. Catat suhu inkubator pada kartu setiap hari sebelum mulai bekerja
  2. Penyimpangan suhu yang melewati 20C , pengatur suhu perlu diatur kembali.

Kalibrasi Alat-Alat Gelas:

Kalibrasi alat-alat gelas dapat dilihat dari macam kaca atau gelas yang dapat digunakan untuk membuat alat ukur gelas tersebut, yaitu :

  1. Soft  glass atau sodalime glass (kaca lunak), direkomendasikan bahwa peralatan volumetric gelassoda-laime direkalibrasi setelah 5 (lima) tahun penggunaan kecuali bila kondisi frosting yang terlihat pada saat kering teramati telah terjadi lebih cepat dari 5 (lima) tahun. Borosilicate glass ( kaca dengan kualitas baik ), namun untuk gelas  barosilikat direkomendasikan rekalibrasi dilakukan setelah 10 (sepuluh) tahun penggunaan bagaimanapun sifat tampaknya.
  2. Alat ukur volume merupakan bagian dari perangkat peralatan yang digunakan dalam praktikum kimia analitik. Alat ukur volume yang dikalibrasi dalam percobaan ini meliputi buret, pipet mohr, pipet volumetrik, dan labu takar. Buret merupakan alat ukur volume yang bisa memindahkan beberapa volume sampai kapasitas maksimumnya. Pipet merupakan alat ukur volume yang bisa memindahkan suatu volume dari suatu wadah ke wadah lainnya. Pipet dibedakan menjadi pipet volumetrik dan pipet serologis. Pipet volumetrik hanya bisa memindahkan suatu volume yang tetap, sedangkan pipet serologis atau pipet Mohr merupakan pipet yang bia memindahkan berbagai volume sampai kapasitas maksimumnya. Labu takar merupakan alat ukur volume yang mengandung sejumlah volume cairan yang diisi sampai tanda tera. (Morris 2001 dalam Novi Maya 2010) .

Teknik pengerjaan kalibrasi volum alat ukur gelas ditentukan oleh tujuan atau fungsi dari alat ukur tersebut. Ada 2 jenis  alat ukur gelas, yaitu :

  1. Alat  ukur untuk mengukur  volum larutan atau zat cair yang keluar dari alat ukur tersebut. Alat ukur jenis ini antaralain : buret, pipet ukur, dan pipet seukuran.
  2. Alat  ukur untuk mengukur  volum larutan atau zat cair yang ada didalam  alat ukur tersebut. Alat ukur jenis ini antaralain : gelas  ukur dan  labu ukur.

Pengerjaan  Kalibrasi     

Pengerjaan pengkalibrasian skala volum dilaksanakan dengan cara memperhatikan beberapa hal antara lain:

  1. Cuci alat gelas yang akan dikalibrasi sebersih mungkin dengan larutan pencuci yang sesuai dengan jenis kotoran seperti pencuci dikhromat untuk menghilangkan lemak, setelah itu cuci dengan air  dan disusul dibilas dengan aquadest. Keringkan  tapi tidak melalui pemanasan. Alat gelas harus kering dan bersih seteliti mungkin.
  2. Proses penimbangan harus dilakukan dalam waktu yang singkat (repeatability condition).
  3. Masukkan aquadest dengan bantuan pipet yang  bersih juga sampai tanda batas yang diinginkan.
  4. Baca volum seteliti mungkin menjaga agar tidak terjadi kesalah paralaks.
  5. Ukur suhu kamar  (suhu aquadest akan sama dengan suhuh kamar).
  6. Prosedur penimbangan di atas harus diulangi dengan jumlah pengulangan (n) yang memadai untuk memperoleh ketidakpastian pengukuran yang dikehendaki oleh laboratorium Pengukuran temperatur air harus dilakukan terhadap air di dalam penampungan dan terhadap air di dalam wadah sebelum dan sesudah penimbangan.
  7. Selanjutnya kita  gunakan tabel hitungan volume dan berat  ( bj ) aquadest pada berbagai suhu. Massa air dapat dikonversi ke volume dengan menggunakan persamaan V= m/d ; dimana V adalah volume, m adalah massa air dan d adalah densitas air pada suhu yang diberikan. Kemudian dicari standar deviasi dan % kesalahannya.

 

II.4.Bahan Pemeriksaan Sampel Fisika, Kimia, Mikrobiologi dan Parasitologi Sampah

II.4.1.Bahan Pemeriksaan Sampel Fisika

Pemeriksaan Kadar Air, Kadar Volatil dan Kadar Abu:

  1. Sampel sampah organik (misalnya sayur, buah dan daging)
  2. Sampel sampah anorganik (misalnya kertas, plastik dan karet)

II.4.2.Bahan Pemeriksaan Sampel Kimia

Pemeriksaan Kadar Logam:

  1. Sampel sampah anorganik padat yang telah diabukan.
  2. Sampel air lindi.
  3. HNO3 pekat, berfungsi sebagai oksidator yang dapat melepas atom logam dari senyawa lain, karena sifat atom logam dapat larut dalam HNO3.
  4. Aquades, berfungsi sebagai pengencer.

II.4.3.Bahan Pemeriksaan Sampel Mikrobiologi:

MPN Coliform:

  1. Sampel air lindi
  2. Media LB (Lactose Broth)

Media yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kehadiran bakteri coliform (bakteri Gram negatif) berdasarkan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung durham berupa gelembung udara.

  1. Media BGLB (Brilliant Green Lactose Broth)

Media yang digunakan untuk mendeteksi bakteri coliform (Gram negatif) di dalam air, makanan, dan produk lainnya. Media ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan menggiatkan pertumbuhan bakteri coliform. Ada atau tidaknya bakteri coliform ditandai dengan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coli. (fardias, 1989)

II.4.4.Bahan Pemeriksaan Sampel Parasitologi

  1. Sampel air lindi
  2. Eosin

Berfungsi sebagai pewarna pada preparat, karena pada umumnya bahan yang akan diteliti tidak memiliki warna.

II.5.Prosedur Kerja dan Pemeriksaan Sampel Fisika, Kimia, Mikrobiologi dan Parasitologi Sampah

II.5.1.Prosedur Kerja Pemeriksaan Sampel Fisika

Pemeriksaan Kadar Air Sampah:

  1. Timbang cawan kosong yang telah dipanaskan selama 1 jam dalam oven dengan suhu105oC, sebanyak tiga kali penimbangan (A gram).
  2. Siapkan sampel yang telah ditentukan kemudian potong kecil-kecil.
  3. Campurkan untuk sampel sebanyak 4 gram ke dalam cawan krus  yang telah di timbang, lalu timbang kembali (x gram).
  4. Panaskan cawan krus tersebut di dalam oven dengan suhu 105oC selama 1 jam.
  5. Setelah 1 jam keluarkan cawan. Biarkan agak dingin, masukkan kedalam desikator lalu biarkan selama 15 menit, kemudian timbang beratnya (y gram). Lakukan penimbanganselama 3 kali penimbangan.
  6. Catat hasil penimbangan.

 

Pemeriksaan Kadar Volatil Sampah:

  1. Sampel sampah kering hasil penetapan kadar air digerus sampai halus
  2. Timbang sampel kering dan halus ± 4 gram dalam cawan krus, catat
  3. Masukkan cawan krus dalam furnace 600ºC selama 1 jam. Lebihkan ¼ jam untuk pencapaian temperatur 600ºC
  4. Matikan furnace biarkan dingin, masukkan dalam desikator. Lalu timbang, lakukan sebanyak tiga kali penimbangan.

 

Pemeriksaan Kadar Abu Sampah:

  1. Sampel sampah kering hasil penetapan volatil digerus sampai halus
  2. Timbang sampel kering dan halus ± 4 gram dalam cawan krus, catat
  3. Masukkan cawan krus dalam furnace 900ºC selama 1 jam. Lebihkan ¼ jam untuk pencapaian temperatur 900ºC.
  4. Matikan furnace, biarkan dingin, masukkan ke dalam desikator. Lalu timbang, lakukan sebanyak tiga kali penimbangan.

 

II.5.2.Prosedur Kerja Pemeriksaan Sampel Kimia

Pemeriksaan Kadar Logam:

  1. 1.      Analisa Logam Dalam Sampel Padat:
    1. Ambil sampel sebanyak 5 gram (timbang dalam neraca analitik).
    2. Masukkan sampel dalam erlenmeyer 100 ml, tambahkan 5 ml HNO3 pekat dan ancerkan hingga volumenya menjadi 50 ml.
    3. Hidupkan kompor listrik dan panaskan selama 3 jam.
    4. Saring sampel dalam labu ukur 50 ml. Bilas sampel dan masukkan air bilasan tersebut dalam labu ukur hingga volumenya menjadi 50 ml.
    5. Periksa absorbansi sampel dan masing-masing larutan standar menggunakan SSA.

 

  1. 2.    Analisa Sampel Dalam Air Lindi:
    1. Ambil sampel 50 ml dan masukkan kedalam gelas piala 100 ml.
    2. Tambahkan 5 ml asam nitrat pekat kemudian tutup gelas piala dengan kaca arloji dan panaskan hingga volumenya menjadi setengah volume semula.
    3. Saring sampel dalam  labu ukur 50 ml menggunakan kertas saring. Bilas sampel dan masukkan air bilasan tersebut kedalam labu ukur hingga volumenya menjadi 50 ml.
    4. Periksa absorbansi sampel dengan menggunakan SSA.

 

II.5.3.Prosedur Kerja Pemeriksaan Sampel Mikrobiologi

MPN Coliform (Metode 15 Tabung dengan Pengenceran):

  1. 1.      Uji Pendahuluan (Uji Pendugaan / Presumptive Test):
    1. Siapkan 1 set media LB untuk 1 sampel (5 tabung LBD dan 30 tabung LBS). lalu 1 set media LB untuk control (+) dan 1 set kontrol (-) perlakuan sama seperti sampel.
    2. Inokulasikan 10 ml sampel ke dalam masing-masing 5 tabung LBD dan 1 ml sampelke dalam masing-masing 5 tabung LBS dengan menggunakan pipet ukur steril.
    3. Pada tabung pengencer pertama ditambahkan 1 ml sampel dikocok sampai homogen maka diperoleh pengenceran 10-1.
    4. Pada tabung air pengencer ke-2 tambahkan 1 ml dari pengenceran 10-1 kocok sampai homogen maka diperoleh pengenceran sampel 10-2. Lakukan pengenceran pada sampel hingga didapat pengenceran 10-3, 10-4 hingga 10-5 atau sesuai pengenceran yang dikehendaki.
    5. Inokulasi 1 ml sampel dari setiap pengenceran ke dalam masing-masing 5 tabung LBS dari pengenceran tersebut diatas.
    6. Goyangkan rak tabung perlahan agar media di dalam sampel homogen.
    7. Inkubasi 35oC 24-48 jam.
    8. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya gelembung gas pada tabung durham.
    9. Tabung yang positif,dilanjutkan ke tahap uji penegasan.
  2. 2.      Uji Penegasan (Confirmative Test):
    1. Siapkan 1 set media BGLB sesuaikan dengan jumlah LB positif.Lalu 1 set media BGLB untuk control (+) dan 1 set untuk kontrol (-) perlakuan sama seperti sampel.
    2. Dari setiap tabung LB yang menunjukkan positif, yaitu adanya kekeruhan,produksi asam dan gas uji pendugaan, dikocok dan masing-masing diambil 1 ose kemudian diinokulasikan ke dalam media BGLB.
    3. Goyangkan rak tabung perlahan agar media dam sampel homogen.
    4. Inkubasi 35oC selama 24-48 jam.
    5. Amati terbentuknya gas pada setiap tabung. Jumlah tabung BGLB yang positif adalah tabung yang menghasilkan gas yang terperangkap pada tabung durham,hasilnya dicatat dan dirujuk ke tabel MPN.
    6. Angka MPN yang diperoleh pada media BGLB dari tabel menunjukkan nilai MPN coliform per 100 mlm sampel uji.
    7. Perhitungan: Nilai MPN yang diperoleh dari tabel dikaitkan dengan tingkat pengenceran tengah.

 

II.5.4.Prosedur Kerja Pemeriksaan Sampel Parasitologi

Pemeriksaan Cacing dan Telur Cacing:

  1. Siapkan sampel air lindi.
  2. Masukkan sampel ke dalam tabung sentrifuge & masukkan ke dalam sentrifuger, nyalakan.
  3. Jika sudah berhenti, angkat tabung, buang larutan supernatan dan sisakan endapannya.
  4. Ambil endapan dan teteskan pada object glass.
  5. Tambahkan eosin, ratakan dan tutup dengan menggunakan deglass.
  6. Amati di bawah mikroskop.

II.6.Hasil Pemeriksaan Sampel Fisika, Kimia, Mikrobiologi dan Parasitologi Sampah

II.6.1.Hasil Pemeriksaan Sampel Fisik

Hasil pemeriksaan kadar air, kadar volatile dan kadar abu dinyatakan dalam satuan %, dengan rumus:

 

II.6.2.Hasil Pemeriksaan Sampel Kimia

 

Pemeriksaan Kadar Logam Pada Sampel                        Pengamatan Hasil Pemeriksaan

 

II.6.3.Hasil Pemeriksaan Sampel Mikrobiologi

Tabung reaksi BGLB yang positif adalah tabung yang menghasilkan gas yang terperangkap pada tabung durham.

 

 

II.6.4.Hasil Pemeriksaan Sampel Parasitologi

Sampel dinyatakan positif apabila terdapat telur atau cacing pada saat diamati dibawah mikroskop.

 

Positif terdapat telur cacing (parasit)

 

Positif Terdapat Cacing (Parasit)

 

II.7.Perawatan Alat dan Bahan yang Telah Digunakan dalam Pemeriksaan Sampel Fisika, Kimia, Mikrobiologi dan Parasitologi Sampah

II.7.1.Perawatan Alat

Perawatan Neraca Analitik

Neraca analitik adalah neraca yang mempunyai ketelitian atau daya baca terkecil sebesar 0,1 mg disebut juga neraca semimikro. Pemeliharaan yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Ditempatkan diatas meja yang paling stabil di laboratorium, Karena itu dipilih tempat dekat dinding atau dipojok ruangan.
  2. Menggunakan stabilizer yang sesuai.
  3. Dihindarkan dari sinar matahari langsung.
  4. Dihindarkan dari gerakan udara
  5. Dihindarkan dari radiasi panas dan elektromagnetik.
  6. Datarkan posisi neraca.
  7. Tutup pintu neraca pada saat tidak digunakan.
  8. Hidupkan setiap hari meskipun tidak digunakan.

Perawatan AAS/SSA

  1. Sumber arus yang digunakan dalam pemakaian AAS ialah 220 volt sehingga arus listrik yang disediakan harus 220 volt dan jangan sampai kurang dari 220 volt.
  2. Meja yang digunakan untuk meletakkan AAS harus datar, kuat dan permanen.
  3. Sumber cahaya harus polikromatis yang nantinya akan diubah menjadi monokromatis.
  4. Lampu katoda ijaga jagan sampai pecah.
  5. Intensitas pemakaian alat jangan melebihi aturan yang telah ditentukan.
  6. Setelah alat digunakan, cuci dengan airdeionisasi selama 10 menit.
  7. Setelah digunakan, burner dibersihkan dan dikeringkan dengan lap bersih untuk menghilangkan karbonnya.
  8. Alat harus disimpan dalam ruangan yang kelembaban dan suhunya terjaga seperti pada ruanga ber AC.
  9. Stabilizer digunakan untuk menstabilkan apabila terjadi fluktuasi.

Perawatan Mikroskop

  1. Setelah mikroskop sudah selesai digunakan, lalu naikkan tubus, bersihkan lensa objekif dengan lens paper (jangan menggunakan tisu biasa karena dapat merusak dan menggores lensa), putar lensa objektif dengan perbesaran sekecil-kecilnya, lalu turunkan serendah-rendahnya tepat di atas lubang meja mikroskop.
  2. Tutup diafragma, posisikan kondensor dan posisi cermin dalam keadaan tegak.
  3. Simpan mikroskop di dalam kotaknya atau dalam lemari.
  4. Jika kelembapan ruangan tinggi, dianjurkan mikroskop disimpan dalam ruangan yang tertutup memakai pengawet kering untuk menghindari jamur atau ruangan tempat penyimpanan dipanaskan dengan lampu sampai suhunya 40-50° C.

 

Perawatan Alat Gelas (Volumetrik)

  1. Cuci alat gelas menggunakan campuran asam sulfat dan kalium dikhromat, hati-hati bahan ini berbahaya.
  2. Keringkan pada rak pengering tetapi tidak boleh dipanaskan dalam oven.
  3. Simpan alat volumetrik yang tidak dipakai dalam lemari tertutup untuk menghindari debu.

 

Perawatan Autoklaf

  1. Gunakan air suling selama proses pensterilan dan pencucian.
  2. Alat perkakas yang akan disteril harus dicuci terlebih dahulu.
  3. Susunan barang-barang di dalam ‘chamber’ harus menurut kaidahyang ditetapkan.
  4. Jangan gunakan talam yang tidak berlubang.
  5. Lepaskan bagian-bagian yang tidak dapat diautoklaf dari peralatanyang akan disteril.
  6. Pastikan proses pensterilan dilakukan oleh suhu yang ditetapkan.
  7. Setiap kali setelah digunakan, pintu harus direnggangkan sedikit.
  8. Chamber‘ harus dicuci setiap minggu.
  9. Tangki dikosongkan dan dibersihkan setiap minggu.
  10. Cuci dengan kain yang lembab, elakkan dari menggunakan bahan penghakis, bahan kimia atau bahan pencuci yang mempunyai kandungan klorida yang tinggi.
  11. Mencegah terjadinya presipitasi, pencoklatan (media menjadi coklat) dan hancurnya substrat dapat dilakukan pencegahan sbb :
    1. Glukosa disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa fosfat- Senyawa fosfat disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone )atau senyawa garam mineral lain.
    2. Senyawa garam mineral disterilkan terpisah dengan agar – Media yang memiliki pH > 7,5 jangan disterilkan dengan autoklaf
    3. Jangan mensterilisasi larutan agar dengan pH < 6,0
    4. Erlenmeyer hanya boleh diisi media maksimum ¾ dari total volumenya, sisa ruang dibirkan kosong. Jika mensterilkan media 1L yang ditampung pada erlenmeyer 2L maka sterilisasi diatur dengan waktu 30 menit.

 

Cara Membersihkan Autoklaf:

  1. Alirkan air keluar dari bekas takungan menggunakan tiub penghubung.
  2. Campurkan ubat pembersih dengan air suling.
  3. Tuangkan bancuhan ke dalam bekas takungan.
  4. Jalankan autoklaf sebanyak dua pusingan.
  5. Alirkan bancuhan dari bekas takungan.
  6. Masukkan air suling.
  7. Jalankan autoklaf sekali lagi.
  8. Sekali lagi alirkan air keluar dari bekas takungan.
  9. Masukkan air suling sekali lagi.
  10. Jalankan autoklaf satu pusingan lagi.
  11. Alirkan air dari bekas takungan.
  12. Isikan bekas takungan dengan air suling.
  13. Autoklaf sedia untuk digunakan.

 

Perawatan Inkubator

  1. Bersihkan bagian dalam inkubator dari sisa contoh atau kotoran lain.
  2. Bersihkan dinding bagian luar dari debu menggunakan lap bersih, jika  perlu dapat digunakan sedikit deterjen.
  3. Jika mungkin penggunaan inkubator hanya di satu titik ukur.
  4. Hidupkan inkubator setiap hari meskipun tidak digunakan. Jika tidak digunakan hidupkan 1 – 2 jam..
  5. Pastikan voltase input stabil sesuai dengan spesifikasi alat.
  6. Periksalah suhu inkubator melalui termometer indikator dan pastikan suhu mencapai titik yang diinginkan. Jika tidak, segera matikan inkubator.

 

Perawatan Bahan

Perawatan bahan-bahan yang telah digunakan haruslah tepat. Karena bahan-bahan tersebut bisa saja mengandung bahan kimia berbahaya, bakteri patogen dan parasit yang tentu saja berbahaya bagi manusia dan lingkungan.

Penanganan bahan kimia yang bersifat asam (contohnya dalam pemeriksaan kadar logam) harus dipisahkan dan dibuang di tempat penampungan khusus. Penampung limbah dapat dibuat seperti water treatment. Setiap wadah dapat diisi dengan bahan pengadsorb limbah, misalnya zeolit, bentonit atau karbon atau penukar ion, sehingga limbah cair aman dibuang di tempat pembuangan limbah cair.

Hal utama dalam penanganan bahan bekas pemeriksaan mikrobiologi dan parasitologi adalah mematikan mikroba dan parasit pada sampel. Sampel sisa pemeriksaan disterilkan dengan menggunakan autoklaf. Setelah steril, sampel tersebut aman dibuang di tempat pembuangan.

Iklan
Posted in: Uncategorized